YOGYAKARTA — Padatnya rutinitas kuliah, pekerjaan, serta paparan digital yang intens membuat sebagian generasi muda rentan mengalami kelelahan fisik dan mental atau burnout. Di tengah situasi itu, kebutuhan berlibur bergeser: tidak lagi semata mencari hiburan, melainkan juga pemulihan diri. Perubahan inilah yang mendorong berkembangnya wellness tourism, tren pariwisata yang menitikberatkan pada kesehatan fisik, mental, dan emosional.
Berbeda dari wisata konvensional, wellness tourism menawarkan pengalaman yang lebih terarah dan bermakna. Sejumlah aktivitas seperti yoga, meditasi, spa tradisional, hingga retreat berbasis alam dirancang untuk membantu wisatawan mencapai keseimbangan tubuh dan pikiran. Bagi Gen Z dan Milenial yang dikenal memberi perhatian pada kesehatan dan kualitas hidup, jenis liburan ini dinilai relevan dan berkelanjutan.
Perkembangan pariwisata global juga menunjukkan pergeseran minat wisatawan menuju pengalaman yang lebih personal dan transformatif. Dalam konteks itu, wellness tourism hadir melalui pendekatan holistik yang menggabungkan relaksasi, kesehatan, dan refleksi diri, sehingga liburan menjadi bagian dari gaya hidup.
Indonesia disebut memiliki keunggulan untuk mengembangkan segmen ini. Kekayaan alam tropis, keragaman budaya, serta tradisi pengobatan dan perawatan Nusantara menjadi modal utama. Praktik seperti lulur, jamu, spa tradisional, terapi musik gamelan, hingga tari Jawa yang bersifat meditatif termasuk bentuk kearifan lokal yang dapat mendukung wellness tourism. Data Global Wellness Institute menempatkan Indonesia pada peringkat pertama di Asia Tenggara dalam nilai ekonomi industri wellness, dengan estimasi mencapai 56 miliar dolar AS.
Di kalangan Gen Z dan Milenial, pilihan aktivitas wellness tourism mencerminkan kecenderungan mencari pengalaman autentik, bermakna, dan bernilai sosial. Tren yang berkembang antara lain wisata berbasis mindfulness untuk mendukung kesehatan mental melalui yoga, meditasi, spa, dan retreat alam sebagai upaya mereduksi stres serta memulihkan fokus.
Tren lain adalah integrasi budaya dan terapi tradisional. Sejumlah destinasi seperti Yogyakarta dan Solo mengembangkan konsep dengan memadukan budaya lokal, misalnya sound healing menggunakan gamelan atau terapi berbasis tari tradisional. Selain menjadi media terapi, pendekatan ini turut berkaitan dengan pelestarian warisan budaya.
Kesadaran lingkungan juga mendorong munculnya eco-wellness tourism yang menekankan pariwisata berkelanjutan. Aktivitas seperti yoga di alam terbuka, nature walk, serta penggunaan produk perawatan berbahan alami menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ramah lingkungan.
Selain relaksasi, generasi muda juga menaruh minat pada active wellness yang menggabungkan kebugaran dan gaya hidup modern. Aktivitas olahraga, nutrisi seimbang, manajemen stres, hingga pengalaman urban seperti healthy brunch dan kelas kebugaran modern menjadi bagian dari pola liburan yang dinamis.
Pengembangan wellness tourism turut dinilai berdampak pada perekonomian dan pemberdayaan komunitas lokal. Pada ajang Wonderful Indonesia Wellness (WIW) 2025, tercatat transaksi langsung sebesar Rp9 miliar, dengan total perputaran ekonomi hampir Rp400 miliar. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 750 pelaku wellness, 900 tenaga event organizer, serta sekitar 100 UMKM, yang menunjukkan potensi penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi lokal.
Untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar wellness tourism global, sejumlah strategi disebut dapat dilakukan, mulai dari diversifikasi produk melalui paket wisata berbasis budaya, alam, kuliner, dan gaya hidup modern; kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, UMKM, komunitas lokal, dan akademisi; digitalisasi serta promosi internasional; hingga standarisasi dan sertifikasi guna menjamin kualitas layanan dan keamanan pengalaman wisatawan.
Di sisi lain, wellness tourism juga dipandang sebagai ruang belajar dan riset bagi generasi muda dan akademisi. Kajian mengenai perilaku wisatawan Gen Z, integrasi budaya lokal dalam program wellness, hingga pengembangan eco-wellness berbasis komunitas dinilai relevan untuk membaca arah industri pariwisata ke depan.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, wellness tourism diposisikan bukan sekadar tren sesaat, melainkan segmen pariwisata dengan potensi ekonomi, sosial, dan budaya. Bagi Gen Z dan Milenial, konsep ini menawarkan liburan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberi ruang pemulihan diri sekaligus mendorong keberlanjutan destinasi wisata lokal.

