Wisata wellness di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren peningkatan pada 2026. Konsep perjalanan yang memadukan alam, budaya, dan ketenangan jiwa ini menjadi bagian dari strategi Pemda DIY untuk mendorong transformasi pariwisata dari mass tourism menuju quality tourism.
Penguatan wisata wellness salah satunya terlihat dari penyelenggaraan Wellness Festival yang rutin digelar Dinas Pariwisata DIY sejak 2023. Festival ini menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari yoga berbasis kearifan lokal, pengenalan kuliner sehat, hingga praktik spiritual yang menitikberatkan pada keseimbangan fisik dan mental wisatawan.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata DIY, Ellya Shari, mengatakan tren wisata 2026 berdasarkan outlook Dinas Pariwisata DIY mengarah pada wisata alam, budaya, serta wellness. “Kemarin sudah ada Wellness Festival, yang sudah jalan tahun ketiga sejak 2023,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).
Dalam penyelenggaraan Wellness Festival pada November 2025, sejumlah kegiatan digelar, antara lain eco friendly living, healthy food and herbs, spiritual wellness and energy healing, hingga healing night concert bersama Kunto Aji. Pada gelaran sebelumnya, kegiatan juga mencakup Yoga on Beach, Sinau Macapat, Yoga Jawa, Laku Lampah, dan lainnya.
Dari sisi partisipasi, jumlah peserta festival meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2023 tercatat 585 peserta, naik menjadi 845 peserta pada 2024, dan mencapai 1.119 peserta pada 2025. Ellya menekankan bahwa wellness tidak selalu berkaitan dengan pengobatan. “Wellness tidak melulu tentang pengobatan, tapi lebih ke jiwa. Termasuk belajar menari, termasuk healing untuk jiwa,” katanya.
Menurut Ellya, tiga tren wisata—alam, budaya, dan wellness—memiliki porsi yang cenderung seimbang. Ia menyebut unsur wellness juga dapat mencakup alam, kerajinan, budaya, hingga gastronomi. Dalam konteks kuliner, konsep yang didorong adalah gastronomi dengan penekanan pada cerita di balik produk makanan dan minuman melalui story telling.
Sejalan dengan arahan Kementerian Pariwisata, gastronomi juga didorong untuk mendukung berbagai event pariwisata. Ellya mencontohkan, saat ada konser di Yogyakarta, pengunjung dapat ditawari wisata gastronomi sehingga mereka memperoleh cerita terkait kuliner yang dinikmati.
Untuk memperkuat tren ini, Pemda DIY rutin menggelar Wellness Festival setiap tahun pada bulan November, dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu setiap akhir pekan. Pola ini dipilih agar masyarakat yang bekerja tetap dapat mengikuti kegiatan. “Jadi bukan berturut-turut, tapi tiap weekend. Agar orang-orang yang bekerja bisa ikut healing di situ,” ujarnya.
Dinas Pariwisata DIY juga mendukung kegiatan masyarakat yang dinilai berpotensi menjadi bagian dari wellness. Ellya mencontohkan jumparingan yang melatih memanah dengan kesabaran, serta aktivitas menari yang dinilai dapat melatih ketenangan jiwa. Ia mengatakan tarian yang dipilih akan menyesuaikan, misalnya dengan gerakan yang lebih lambat agar peserta dapat merasa rileks.
Ellya menyebut tren wellness meningkat dalam tiga hingga empat tahun terakhir. Meski begitu, sebelum istilah tersebut populer, sejumlah aktivitas yang mengarah pada wellness sudah masuk dalam paket wisata, seperti yoga. Menurutnya, tren ini menguat karena semakin banyak orang mencari pengalaman healing yang bukan sekadar jalan-jalan biasa.
Menguatnya wisata wellness dinilai sejalan dengan upaya Pemda DIY beralih dari mass tourism ke quality tourism. Pendekatan ini menekankan kualitas kunjungan, di mana jumlah wisatawan tidak harus besar, tetapi perputaran ekonomi diharapkan lebih tinggi. “Wellness ini termasuk dalam quality tourism, kan ada paket harganya masing-masing. Kita sedang pelan-pelan mengubah Jogja ke quality tourism dengan tidak terlalu banyak orang tapi belanjanya lebih banyak,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, wisata wellness di DIY tidak hanya menawarkan pengalaman liburan, tetapi juga diharapkan memberi dampak ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan, sekaligus relevan dengan tren wisata modern yang mengutamakan kualitas dan makna perjalanan.

