BERITA TERKINI
Workshop Komposisi Musik di Sumbar Soroti Peran Musik dalam Pertunjukan Tari dan Teater

Workshop Komposisi Musik di Sumbar Soroti Peran Musik dalam Pertunjukan Tari dan Teater

Workshop Komposisi Musik yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat pada 19–21 Mei 2026 kembali mengangkat pembahasan tentang pengembangan musik tradisi dalam konteks seni pertunjukan modern. Setelah sesi mengenai scoring dan identitas bunyi tradisional, peserta menerima materi lanjutan terkait peran musik dalam pertunjukan tari dan teater yang disampaikan narasumber Indra Ariffin.

Dalam pemaparan berjudul Ethno-Performance Scoring: Musik sebagai Tubuh Dramaturgi, Indra menegaskan bahwa musik bukan sekadar pelengkap, melainkan ruang emosional tempat pertunjukan “hidup”. Ia menyebut ketika pertunjukan kehilangan musik, tari akan kehilangan napas ritmis, sementara teater kehilangan atmosfer emosional. Akibatnya, gerak menjadi kosong dan ruang pertunjukan kehilangan energi.

Indra menjelaskan, dalam konsep performance scoring, musik dan pertunjukan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling membentuk. Musik diciptakan untuk membangun atmosfer, memperkuat dramaturgi, mengatur energi panggung, hingga menghidupkan emosi penonton.

Ia juga memaparkan bahwa hubungan musik dan tubuh telah hadir sejak masa purba. Menurutnya, sebelum manusia mengenal bahasa, ritme sudah menjadi bagian dari respons alami tubuh terhadap bunyi. Karena itu, ia menilai hampir seluruh ritual tradisional melibatkan bunyi, gerak, repetisi, dan trance.

Dalam konteks pertunjukan Minangkabau, Indra menyebut musik kerap menjadi “aktor tak terlihat” yang membangun suasana emosional. Dendang, bunyi napas, dengung drone, hingga ambience ritual dinilai dapat menghadirkan makna meski tanpa dialog.

Ia kemudian memperkenalkan konsep ethno-performance scoring, yakni pengolahan unsur bunyi tradisi untuk kebutuhan dramaturgi pertunjukan modern. Dalam pandangannya, tradisi tidak sekadar dimainkan ulang, melainkan ditransformasikan menjadi bahasa dramatik baru.

Dalam contoh yang disampaikan, talempong dapat diolah menjadi texture rhythm, rabab menjadi emotional motif, saluang menjadi ambient melodic layer, dan gandang menjadi tension pulse dalam sebuah pertunjukan. Indra menekankan, tradisi tidak harus selalu hadir secara literal dalam karya modern; yang terpenting adalah bagaimana “roh bunyi” tradisi tetap terasa.

Selain membahas pendekatan kreatif, peserta juga diingatkan agar tidak terlalu bergantung pada preset digital dalam proses penciptaan musik. Indra menyebut komposer masa depan perlu memahami dramaturgi, sensitif terhadap ruang dan emosi, serta menguasai akar budaya. “Jika tubuh adalah medium gerak, maka musik adalah medium rasa,” tulisnya dalam kesimpulan materi.