Yayasan Sadar Belajar Indonesia menggelar mini-workshop bertajuk Braille Literacy di JNM Bloc, Yogyakarta, Rabu (22/10/2025). Kegiatan ini diselenggarakan untuk mendorong kesetaraan akses literasi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat umum—yang disebut “teman-teman awas”—terhadap huruf Braille agar lebih dikenal luas, sejajar dengan kepopuleran Bahasa Isyarat.
Mini-workshop tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan “2 Dekade Sekolah Tumbuh: Reunion – Melihat Pertumbuhan”. Ketua Yayasan Sadar Belajar Indonesia, Tiffany Yumna Paraswati (Fanny), yang juga guru special needs di Sekolah Tumbuh, mengatakan inisiatif ini lahir dari keinginannya agar Braille dipandang sebagai bentuk bahasa yang menarik untuk dipelajari, sebagaimana bahasa lainnya.
Fanny menilai antusiasme pengunjung di lokasi pameran menunjukkan minat publik terhadap literasi sentuh cukup besar. Menurutnya, hal itu memperkuat keyakinan bahwa pengenalan Braille perlu diperluas, tidak hanya terbatas pada komunitas tertentu.
Dalam pelaksanaannya, Sadar Belajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga melibatkan lima adik binaan netra. Mereka merupakan hasil kolaborasi rutin dengan Asosiasi Keluarga Anak Disabilitas Netra Indonesia (Akadini) yang berjalan sejak 2022. Dengan keterlibatan langsung tersebut, peserta awas dapat belajar teknik membaca dan menulis Braille dari narasumber utama. Fanny menyebut metode ini dipilih agar edukasi berlangsung lebih interaktif dan berdampak.
Salah satu fokus pembelajaran adalah mengatasi tantangan umum peserta awas, yakni kurangnya ketelitian dalam menempatkan titik-titik Braille. Fanny menekankan presisi sebagai kunci karena perubahan posisi titik dapat mengubah makna kata. “Posisi hurufnya geser aja itu akan beda makna, beda arti,” ujarnya.
Dari kalangan peserta, Tyas dan Yoga, guru dari SLB G-AB Helen Keller Indonesia, menilai kegiatan ini bermanfaat, terutama untuk memahami pendekatan pengajaran Braille yang efektif bagi anak usia dini. Tyas mengatakan pengalaman belajar bersama anak-anak binaan membuka wawasan dan memberinya teknik baru untuk diterapkan di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Yoga yang berlatar pendidikan luar biasa menilai edukasi semacam ini penting bagi masyarakat luas karena pemahaman tentang inklusivitas belum merata. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan dunia anak berkebutuhan khusus kepada publik.
Fanny berharap kegiatan serupa tidak hanya diinisiasi oleh Sadar Belajar, tetapi juga oleh pihak lain. Ia ingin isu Braille dan inklusivitas terus diangkat agar tercipta ruang yang lebih terbuka dan menerima.

