BERITA TERKINI
10 Adaptasi Stephen King yang Kurang Dibicarakan, dari Christine hingga The Running Man

10 Adaptasi Stephen King yang Kurang Dibicarakan, dari Christine hingga The Running Man

Karya-karya Stephen King sudah lama menjadi langganan layar lebar maupun serial televisi. Namun, di tengah banyaknya adaptasi yang populer, ada sejumlah judul yang kerap luput dari perhatian, padahal menawarkan cerita menarik dengan pendekatan yang beragam—mulai dari horor psikologis, thriller supranatural, hingga distopia. Berikut 10 adaptasi Stephen King yang dinilai underrated, termasuk The Running Man.

1. Christine (1983)
Film yang disutradarai John Carpenter ini mengangkat ketakutan yang tak lazim: sebuah mobil. Kisahnya mengikuti Arnie (Keith Gordon), remaja kesepian yang sering dirundung dan kesulitan bergaul. Hidupnya berubah setelah ia memiliki mobil klasik yang kemudian ia perbaiki dan beri nama Christine. Seiring meningkatnya rasa percaya diri Arnie, mobil itu justru menunjukkan sisi mengerikan: Christine dirasuki roh jahat dan memburu orang-orang yang pernah merundung Arnie, meneror hingga membunuh mereka. Meski banyak penggemar menilai film ini sangat bagus, Christine kerap tidak dianggap sebagai karya terbaik dalam filmografi Carpenter yang dikenal lewat Halloween dan sejumlah judul lain.

2. The Running Man (1987)
Versi 1987 yang dibintangi Arnold Schwarzenegger disebut kurang mendapatkan perhatian sebagai adaptasi Stephen King. Film ini menonjolkan nuansa khas era 1980-an: distopia yang dibingkai sebagai reality show kompetisi, lengkap dengan set dan kostum yang kini terasa jadul. Film ini juga dinilai tidak sekelam versi yang disebut akan hadir pada 2025. Saat rilis, film ini disebut kesulitan memikat penonton, apalagi pada tahun yang sama hadir RoboCop dan Predator yang juga dibintangi Schwarzenegger.

3. Sometimes They Come Back (1991)
Adaptasi produksi CBS ini disebut sebagai yang terburuk dalam daftar. Ceritanya berpusat pada Jim Norman, seorang guru yang dihantui masa lalu ketika ia menyaksikan saudaranya dibunuh preman saat masih muda. Di kemudian hari, ia melihat murid-muridnya berubah menjadi penampakan yang mirip dengan para pelaku kekerasan tersebut, memicu teror yang terus mengintai.

4. Dolores Claiborne (1995)
Nama Kathy Bates kerap diingat lewat Misery (1990), sehingga Dolores Claiborne sering tertutup pamornya. Dalam film ini, Bates memerankan Dolores, perempuan yang dikucilkan karena dituduh membunuh suaminya. Dua dekade kemudian, ia kembali dituduh membunuh majikannya. Dolores lalu bertemu kembali dengan putrinya, Selena (Jennifer Jason Leigh), setelah lama berpisah, sementara bayang-bayang masa lalu terus menghantui. Skenario film ini diadaptasi oleh Tony Gilroy.

5. Storm of the Century (1999)
Stephen King tidak hanya menulis novel, tetapi juga mencoba menulis skenario. Jika Maximum Overdrive (1986) kerap disebut gagal, Storm of the Century justru menjadi pengecualian yang dipandang berhasil. King menerbitkan skenarionya pada 1999 sebelum diadaptasi menjadi miniseri dan tayang di ABC pada tahun yang sama. Berlatar pesisir New England, cerita mengikuti kedatangan Andre Linoge (Colm Feore) yang menebar teror di kota kecil dengan kekuatan supernatural. Meski mendapat respons baik dari penonton dan kritikus, miniseri ini disebut kurang mendapat perhatian luas. King bahkan mengatakan kepada The New York Times bahwa itu adalah miniseri terbaik yang pernah ia tulis dan menjadi favoritnya.

6. 11.22.63 (2016)
Novel tebal dan kompleks King berjudul 11/22/63 (2011) diadaptasi Hulu menjadi miniseri delapan episode pada 2016, namun disebut mudah terlupakan. Ceritanya mengikuti Jake Epping (James Franco) yang menemukan portal waktu di sebuah restoran. Portal itu selalu membawanya kembali ke hari yang sama pada 1958. Jake menyadari bahwa jika ia bisa bertahan dan bersembunyi selama lima tahun, ia berpeluang mencegah pembunuhan Presiden John F. Kennedy. Dalam perjalanannya, ia dibantu Bill Turcotte (George MacKay).

7. 1922 (2017)
Netflix mengadaptasi novella 1922 dari kumpulan Full Dark, No Stars, dengan Zak Hilditch sebagai penulis sekaligus sutradara. Berlatar tahun 1922, film ini mengikuti Wilfred (Thomas Jane) yang mengalami gangguan mental di tengah ekonomi yang buruk. Ia memengaruhi putranya, Henry (Dylan Schmid), untuk membunuh sang ibu, Arlette (Molly Parker), demi uang asuransi jiwa. Setelah tindakan itu, keduanya diteror kejadian-kejadian aneh. Film ini digambarkan brutal dan melankolis, namun saat rilis disebut tidak menarik perhatian besar.

8. In the Tall Grass (2019)
Novella yang ditulis Stephen King bersama putranya, Joe Hill, ini bercerita tentang sekelompok orang yang tersesat di padang rumput tinggi yang luas. Kritikus menyebut filmnya mengingatkan pada Children of the Corn (1984), meski dinilai tidak semenarik itu. Adaptasi ini disutradarai Vincenzo Natali, yang dikenal lewat film kultus seperti Cube (1997) dan Splice (2009). Film ini juga ditopang penampilan Patrick Wilson yang memerankan fanatisme religius dengan sentuhan kekuatan supernatural.

9. The Boogeyman (2023)
Disutradarai Rob Savage, film ini diadaptasi dari cerita pendek Stephen King yang debut pada 1973 dan kemudian dimasukkan dalam buku Night Shift. Cerita pendeknya berbentuk percakapan terapis dan klien yang yakin keluarganya dibunuh hantu. Dalam versi film, fokus bergeser pada keluarga Will Harper (Chris Messina) dan dua putrinya: Sadie (Sophie Thatcher) dan Sawyer (Vivien Lyra Blair). Setelah kematian ibu mereka, Sawyer merasa ada sesuatu yang bersembunyi di lemari, di bawah tempat tidur, atau di sudut ruangan. Film ini disebut memiliki alur yang liar dan tak terduga, memadukan ketegangan dengan kengerian bertema makhluk astral, namun kurang dilirik.

10. The Running Man (2025)
Tahun 2025 juga menghadirkan versi baru The Running Man garapan Edgar Wright. Film ini disebut bukan pembuatan ulang film 1987, melainkan penceritaan ulang dengan nuansa baru yang lebih dekat pada gagasan distopia dalam kisah King. Latar ceritanya menggambarkan masa depan yang hancur oleh kesenjangan kelas ekonomi, ketika warga daerah kumuh terdorong ikut reality show mematikan demi peluang keluar dari kemiskinan. Ben Richards (Glen Powell), yang putrinya sakit, dipaksa mengikuti kompetisi bertahan hidup selama 30 hari dan bertekad bertahan karena amarah pada ketidakadilan. Meski disebut mendapat penilaian baik dari kritikus, film ini dilaporkan gagal di box office. Ceritanya juga digambarkan sebagai kritik tajam tentang bagaimana penderitaan bisa diubah menjadi hiburan, disampaikan lewat humor gelap namun sarat kemarahan.

Daftar di atas menunjukkan luasnya spektrum adaptasi Stephen King—dari horor supranatural hingga kritik sosial distopis. Meski jarang dibicarakan, sejumlah judul tersebut menawarkan pengalaman menonton yang berbeda bagi penonton yang ingin mengeksplorasi sisi lain adaptasi karya King.