Seni dan sastra kerap menjadi ruang bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk menyampaikan gagasan, nilai, dan identitas. Di tengah derasnya arus modernitas, kegiatan seni dinilai penting sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pimpinan Produksi Apresiasi Seni dan Sastra (APSETRA) XIII, Feby Febriana, mengatakan APSETRA XIII hadir sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan ide, kreativitas, serta semangat kebangsaan melalui karya seni dan sastra. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ajang pembelajaran lintas budaya dan lintas generasi yang menghadirkan dialog kreatif untuk memperkaya pemahaman tentang keragaman Indonesia.
“Melalui APSETRA XIII, kami ingin menunjukkan bahwa seni dan sastra mampu menjadi media perekat kebhinekaan dan penguat identitas bangsa. Setiap karya yang ditampilkan memiliki makna dan pesan tentang keindonesiaan,” ujar Feby saat mengisi Program Odah Bekesah Pro 4.
Feby menjelaskan, APSETRA tahun ini mengusung tema yang mencerminkan upaya melestarikan budaya lokal dalam balutan modernitas. Berbagai penampilan seni, teater, musik, hingga puisi disajikan dengan nuansa baru yang menggambarkan kekayaan budaya Nusantara sekaligus kreativitas generasi masa kini.
Ia berharap kegiatan seperti APSETRA XIII terus mendapat dukungan masyarakat dan pemerintah agar para pelaku seni dan sastra memiliki wadah yang konsisten untuk berkembang serta berperan aktif dalam memajukan seni budaya Indonesia.
Menutup pernyataannya, Feby menegaskan APSETRA XIII bukan sekadar acara seni, melainkan perjalanan untuk mengukir prasasti baru bagi Nusantara melalui kolaborasi, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya. Semangat tersebut diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus menjaga dan merayakan jati diri bangsa melalui karya-karya terbaik mereka.

