BERITA TERKINI
Asal-usul Musik Lintas Imsakiyah Sahur RRI Mataram: Berawal dari Kaset Tanpa Sampul

Asal-usul Musik Lintas Imsakiyah Sahur RRI Mataram: Berawal dari Kaset Tanpa Sampul

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat, terutama pendengar RRI Mataram, ada satu instrumen musik yang kerap terdengar sebagai penanda menjelang imsak selama Ramadan. Melodi dengan petikan dawai yang khas itu mengiringi program Lintas Imsakiyah Sahur dan bagi sebagian warga terasa seperti “alarm” tak tertulis untuk segera mengakhiri santap sahur.

Asal-usul musik yang telah mengudara lebih dari satu dekade ini diungkap oleh Muhammad Hidayat, mantan Music Director (MD) Pro 1 RRI Mataram yang kini telah purna tugas. Ia menuturkan, materi musik tersebut bermula dari sebuah kaset pita tanpa sampul yang diterimanya pada 2014.

Menurut Hidayat, kaset itu berwarna putih dan bertuliskan huruf Arab di kedua sisi. Saat menerimanya, ia tidak mengetahui judul maupun identitas lagu yang terekam di dalamnya. Dari kaset itulah ia kemudian mengeksplorasi dan mengolah bagian musik yang dianggap sesuai untuk kebutuhan siaran sahur.

Hidayat menjelaskan, rekaman asli pada kaset tersebut merupakan musik orkestra yang disertai vokal. Namun untuk dijadikan latar siaran, ia hanya mengambil bagian intro dan interlude. Potongan-potongan itu kemudian disusun ulang dan diputar berulang (looping) agar durasinya lebih panjang dan pas sebagai pengiring fragmen Ramadan.

Hasil olahan “potong-sambung” itu mulai digunakan sejak 2014 dan perlahan melekat di telinga pendengar. Keunikan bunyi petikan dawai yang oleh sebagian orang diistilahkan “ceiit ceiit” bahkan menjadi penanda yang mudah dikenali.

Identitas musik tersebut sempat diuji ketika pada tahun kedua atau ketiga Hidayat mencoba menggantinya dengan instrumen lain. Namun reaksi datang dari internal dan pendengar. Almarhum Slamet Raharjo, salah satu tokoh senior di RRI saat itu, disebut sempat menanyakan keberadaan musik sahur yang khas tersebut karena banyak orang mencarinya. Setelah itu, musik lama dikembalikan dan terus dipakai hingga kini.

Di tengah popularitasnya, bermunculan pula spekulasi mengenai asal musik itu. Sebagian menyebutnya bernuansa Timur Tengah, sementara ada juga warga yang mengira musik tersebut merupakan musik lokal karena begitu akrab terdengar.

Penggunaannya tidak hanya terbatas pada siaran radio. Hidayat menceritakan, seorang rekannya yang bekerja di KPU pernah meminta salinan musik tersebut untuk diputar melalui pengeras suara masjid di wilayah Lombok Utara sebagai penanda sahur.

Bagi Hidayat, instrumen itu memiliki nilai historis karena lahir pada masa transisi ketika RRI Mataram masih menggunakan media kaset dan pita ril. Ia juga menilai musik tersebut hingga kini relatif aman dari klaim hak cipta di platform digital.

Hidayat menyebut, setiap kali musik itu terdengar menjelang Subuh, banyak orang secara refleks mulai berhenti makan dan minum karena waktu imsak kian dekat. Meski ia telah purna tugas, karya olahannya tetap mengudara setiap Ramadan dan menjadi bagian dari memori kolektif pendengar di Mataram dan sekitarnya.