Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 kembali digelar dengan skala lebih besar. Tahun ini, pameran kebugaran dan kecantikan tersebut menghadirkan 90 eksibitor dengan total 140 merek.
Co-Founder sekaligus Managing Director BWB Expo, Diah Permana, mengatakan ada sejumlah pembaruan dalam penyelenggaraan tahun ini. Salah satunya, pengunjung dapat mencoba terapi ice bath atau mandi air dingin, serta mengikuti pengalaman yoga kuno otentik Bali yang diinisiasi Universitas Hindu Negeri Sugriwa Denpasar.
“Sekarang ada, orang bisa merasakan pengalaman ice bath, mandi di air dingin, air es dan kami juga akan mengangkat yoga kuno yang diinisiasi Universitas Hindu Negeri Sugriwa Denpasar,” kata Diah di Denpasar, Selasa, 26 Mei 2026.
Diah menambahkan, jumlah kunjungan pada 2026 diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Penyelenggara menargetkan 5.000 orang hadir selama pelaksanaan pada 4–6 Juni 2026.
Selain jumlah pengunjung, nilai transaksi juga diproyeksikan naik. Pada 2025, pameran ini mencatat nilai penjualan sebesar 2 juta dolar AS, sementara tahun ini penyelenggara berharap dapat mencapai 3 juta dolar AS.
“Jadi itu tidak serta merta apa yang terjadi di sana, tapi bisnis mereka berlangsung terus secara berkelanjutan. Tahun ini setidaknya bisa $3 juta saya harapkan,” ujar Diah.
Menurut Diah, optimisme tersebut didukung oleh meningkatnya jumlah eksibitor sebesar 12,5% dan pertumbuhan merek hingga 33,6%. Ia berharap para peserta pameran bisa memperluas pasar, termasuk menjual produk ke hotel dan spa, serta membuka peluang penjualan bahan dasar untuk dipasarkan kembali.
BWB Expo diklaim sebagai salah satu platform kebugaran dan kecantikan terbesar di Asia Tenggara. Diah menilai ada perbedaan mendasar antara pameran serupa di negara lain, seperti China, Malaysia, dan Thailand, yang cenderung berfokus pada penjualan produk kecantikan. Sementara di Bali, pameran ini menonjolkan kearifan lokal dalam tradisi merawat tubuh.
“Beauty ini adalah bonus dari wellness, bukan beauty operasi plastik, bukan kecantikan artificial tapi yang alami,” kata Diah. Ia menambahkan, wellness merupakan keseimbangan antara apa yang diminum dan dimakan, yang kemudian tercermin pada penampilan.
Co-Founder BWB Expo, I Ketut Jaman, menyampaikan pengembangan Bali sebagai pusat wellness tourism dunia dinilai bukan sekadar peluang ekonomi, melainkan upaya mengembalikan pariwisata Bali pada akar budaya dan filosofi lokal, seperti Tri Hita Karana serta tradisi pengobatan Usadha Bali.
“Pendekatan wellness yang autentik dan berbasis komunitas lokal akan menjadi pondasi dalam membangun pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih merata,” kata Ketut Jaman.
Salah satu agenda dalam penyelenggaraan tahun ini adalah rencana deklarasi Indonesia Wellness and Beauty Entrepreneurs Association (IWBEA). Ketut Jaman menyebut organisasi itu dirancang sebagai wadah kolaborasi nasional untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, industri, asosiasi, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha dalam pengembangan sektor wellness dan beauty Indonesia.