Nama Rumahsakit mungkin terdengar seperti institusi medis. Namun bagi penikmat musik independen Indonesia, band ini dikenal sebagai salah satu fondasi penting yang ikut mengiringi lahirnya gelombang indie pop sejak era 1990-an. Perjalanan mereka tidak dimulai dari panggung besar atau studio rekaman megah, melainkan dari ruang diskusi dan koridor kampus di Jakarta.
Rumahsakit terbentuk pada 1994, ketika sekelompok mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dipertemukan oleh kegemaran yang sama terhadap musik alternatif Inggris serta dorongan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dari arus utama pada masa itu. Lingkungan kampus yang terbuka terhadap eksperimen artistik menjadi ruang subur bagi berkembangnya ide-ide musikal mereka.
Di tengah industri musik Indonesia yang pada 1990-an masih terpusat pada label besar dan mengandalkan distribusi fisik, Rumahsakit hadir menawarkan warna segar. Musik mereka disebut terinspirasi gelombang Britpop, tetapi tetap berupaya mempertahankan identitas lokalnya.
Serangkaian latihan di lingkungan kampus kemudian berujung pada rekaman album perdana berjudul Rumahsakit yang dirilis pada 1997. Album ini kerap dipandang sebagai salah satu rilisan penting dalam sejarah musik indie Indonesia.
Sejumlah lagu dari album tersebut, seperti “Hilang” dan “Pop Kinetik”, mendapat tempat di hati pendengar yang mencari alternatif dari pop arus utama. Tanpa promosi besar-besaran, musik Rumahsakit menyebar dari mulut ke mulut, dari panggung kecil ke komunitas kampus lain, dan perlahan membangun basis penggemar yang solid.
Seiring waktu, mereka mulai tampil di berbagai panggung—mulai dari acara kampus, festival independen, hingga ruang-ruang pertunjukan alternatif di Jakarta. Rumahsakit membangun reputasi sebagai band yang konsisten dengan identitasnya. Bagi sebagian penonton, penampilan mereka tidak semata hiburan, melainkan juga ruang kebersamaan antara band dan audiens.
Kedekatan itu turut terlihat dari sebutan “Pasien” yang digunakan para penggemar. Mereka menjalin hubungan emosional yang khas, seolah musik Rumahsakit menjadi ruang aman untuk berbagi rasa.
Kesuksesan album pertama kemudian dilanjutkan lewat perilisan Nol Derajat pada 2000. Dalam album ini, kedewasaan musikal Rumahsakit disebut semakin terasa melalui aransemen yang lebih rapi dan eksplorasi bunyi yang lebih matang, tanpa meninggalkan kehangatan yang menjadi ciri mereka. Pada titik tersebut, Rumahsakit dinilai telah melampaui label sebagai band kampus dan menjadi bagian penting dalam peta musik independen Indonesia.

