Di tengah ketegangan politik yang telah berlangsung puluhan tahun antara Israel dan Iran, sekelompok musisi dari kedua negara yang berbasis di Berlin, Jerman, memilih jalur berbeda: membangun dialog melalui musik. Mereka tergabung dalam ensambel Sistanagila, sebuah proyek yang bertujuan mempererat solidaritas dan menghadirkan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Konflik dan permusuhan historis antara Israel dan Iran turut membentuk persepsi warga dari kedua pihak. Namun para musisi di Berlin ini bertekad menunjukkan bahwa komunikasi lintas budaya tetap mungkin terjalin, terlepas dari situasi politik yang membayangi hubungan kedua negara.
Sistanagila diinisiasi oleh Babak Shafieian, warga Iran yang pindah ke Jerman saat masih muda untuk menempuh pendidikan. Ia memulai proyek tersebut sekitar 15 tahun lalu sebagai respons terhadap retorika antisemitisme yang, menurutnya, dipromosikan oleh presiden Iran saat itu, Mahmoud Ahmadinejad. Ahmadinejad menjadi sorotan internasional karena menyangkal Holokaus dan kerap melontarkan ancaman terhadap Israel.
“Pandangan Ahmadinejad tidak mencerminkan sikap saya terhadap Israel dan orang-orang Yahudi,” kata Shafieian. Dari situ, ia ingin menciptakan sesuatu yang mempertemukan warga Iran dan Israel sebagai bentuk solidaritas.
Shafieian mengaku terinspirasi oleh latar belakang musik keluarganya serta Orkestra West-Eastern Divan milik Daniel Barenboim, yang mempertemukan musisi Yahudi dan Palestina untuk memainkan musik klasik secara berdampingan.
Langkah awal pembentukan ensambel ini dimulai ketika Shafieian menghubungi Yuval Halpern, musisi dan komposer asal Israel yang kini menjadi direktur musik Sistanagila. Halpern mengingat kesan pertamanya saat menerima surat elektronik dari Shafieian. Ia mengaku sempat waswas karena jarang ada orang Iran menghubungi orang Israel.
Setelah mencari informasi tentang Shafieian, Halpern akhirnya setuju untuk bertemu di sebuah restoran hummus di Neukölln, distrik dengan komunitas Arab terbesar di Berlin. Dari pertemuan itu, keduanya kemudian mengajak lebih banyak musisi dari negara asal mereka masing-masing. Halpern menilai proyek seperti ini hanya mungkin terjadi di Berlin, bukan di Israel maupun Iran.
Dalam karya-karyanya, Sistanagila mengeksplorasi warisan musik masing-masing dan mencoba memadukan ragam tradisi. Mereka menggabungkan elemen musik klasik Persia, nyanyian Yahudi, serta melodi Klezmer—tradisi musik instrumental Yahudi Ashkenazim dari Eropa tengah dan timur—dengan pengaruh jazz dan rock progresif.
Halpern menjelaskan bahwa mereka juga menemukan banyak kesamaan dalam musik Sephardic yang bernuansa oriental dan memiliki kemiripan dengan nada-nada Arab. Di saat yang sama, setiap anggota membawa latar musik berbeda, mulai dari heavy metal, musik klasik, hingga jazz.
Nama Sistanagila sendiri merefleksikan pertemuan dua budaya. “Sistan” merujuk pada provinsi Sistan dan Baluchistan di Iran, sedangkan “Nagila” mengingatkan pada lagu Yahudi yang dikenal luas, “Hava Nagila.”
Meski para anggotanya memiliki pandangan politik yang beragam, Shafieian mengatakan mereka umumnya sepakat mengenai pentingnya persahabatan antara rakyat Israel dan Iran. Halpern menegaskan bahwa konten musik mereka tidak secara langsung bersifat politis—mereka tidak menyanyikan lagu untuk menentang rezim tertentu atau mendukung negara tertentu.
Namun, Halpern mengakui bahwa kerja sama itu sendiri memuat pernyataan politis. Bagi dia, proyek ini penting untuk menunjukkan bahwa persoalan tidak terletak pada rakyat, melainkan pada pemerintah dan para politisi.
Dalam konteks perang AS-Israel dengan Iran, Shafieian menyampaikan harapannya agar rakyat Iran tidak dilupakan. Ia menilai situasi bisa menjadi lebih berbahaya jika masyarakat ditinggalkan sendirian dengan rezim yang ada. Ia pun berharap perang tersebut “akan menjadi yang terakhir.”
Shafieian memandang Sistanagila sebagai salah satu dari berbagai inisiatif artistik, politik, dan sosial yang berupaya mempererat hubungan antara rakyat Iran dan Israel. Baginya, ensambel ini menghadirkan perspektif masa depan—sebuah harapan agar orang Iran dan Israel dapat berteman, serta kedua negara dapat membangun persahabatan dan hubungan yang lebih erat.

