Pernah merasa tidak tertarik pada sebuah lagu, tetapi setelah seharian melihat video di TikTok, tanpa sadar justru ikut hafal dan menyukainya? Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Ada penjelasan psikologis yang membantu memahami mengapa telinga dan pikiran bisa perlahan menerima—bahkan menyukai—nada yang awalnya terasa biasa saja.
Selera musik sering dianggap sangat personal. Namun di era algoritma, batas antara pilihan pribadi dan apa yang terus-menerus disodorkan platform menjadi semakin tipis. Salah satu konsep yang menjelaskan hal ini adalah mere-exposure effect, temuan klasik dari psikolog Robert Zajonc. Intinya, manusia cenderung menyukai sesuatu hanya karena sering terpapar oleh hal tersebut.
Di TikTok, efek ini terasa nyata. Potongan lagu yang sama bisa muncul berulang-ulang di berbagai video yang melintas di beranda. Paparan yang terus terjadi membuat lagu itu semakin familiar. Seiring waktu, rasa familiar tersebut dapat berubah menjadi rasa suka.
Dalam penjelasan yang dikutip dari The Decision Lab, mere-exposure effect juga disebut sebagai Prinsip Keakraban. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengembangkan preferensi terhadap hal-hal yang sudah dikenal. Sebaliknya, sesuatu yang terasa asing kerap dianggap membingungkan atau bahkan mengancam, sementara yang familiar memberi rasa aman dan nyaman bagi otak.
Menariknya, proses ini sering berlangsung tanpa kesadaran kognitif. Artinya, seseorang bisa mulai menyukai sebuah lagu bahkan sebelum sempat memikirkan alasan di baliknya. Ketika otak berulang kali mendengar pola yang sama, respons nyaman karena “kenal” bisa muncul, lalu disalahartikan sebagai ketertarikan terhadap lagunya.
Di titik inilah algoritma For You Page (FYP) berperan. Saat potongan lagu diputar berulang lewat berbagai konten, otak makin cepat mengenali pola dan membangun rasa akrab. Akibatnya, sebuah lagu bisa terasa lebih menyenangkan bukan semata karena kualitas komposisinya, melainkan karena frekuensi kemunculannya yang tinggi.
Dampak lanjutannya, jika seseorang terus-menerus terpapar jenis musik yang serupa, selera musik berpotensi menyempit. Pilihan mendengar tidak lagi sepenuhnya didorong oleh penilaian personal, melainkan oleh apa yang paling sering disajikan mesin dan media.
Namun, efek paparan berulang juga memiliki batas. Keakraban memang dapat meningkatkan rasa suka, tetapi paparan yang terlalu berlebihan bisa memicu kebosanan. Hal ini dapat menjelaskan mengapa lagu yang sangat viral di TikTok kerap menghilang secepat kemunculannya: audiens bisa jenuh, bahkan merasa muak setelah terlalu sering mendengarnya.
Pada akhirnya, saat menemukan lagu baru yang masuk daftar putar favorit, pertanyaan sederhana bisa membantu: apakah lagu itu benar-benar disukai, atau hanya terasa menyenangkan karena terlalu sering terdengar? Memahami cara kerja mere-exposure effect dapat membuat pendengar lebih kritis di tengah arus algoritma, sekaligus membantu mengambil kembali kendali atas musik yang benar-benar ingin didengar—di luar apa yang sedang viral di FYP.

