BERITA TERKINI
Buku “Spektrum Kota Malang 2” Rekam Satu Abad Stadion Gajayana lewat Kerja Kolektif Lintas Disiplin

Buku “Spektrum Kota Malang 2” Rekam Satu Abad Stadion Gajayana lewat Kerja Kolektif Lintas Disiplin

Buku Spektrum Kota Malang 2: Satu Abad Stadion Gajayana disusun sebagai kerja kolektif lintas disiplin yang melibatkan puluhan penulis dari beragam latar belakang, mulai pelajar, pustakawan, akademisi, sejarawan, arsitek, budayawan, hingga pegiat literasi. Para penulis menyebut proses penulisan dilakukan tanpa honor maupun janji imbalan, dengan keyakinan bahwa sejarah Kota Malang perlu dituliskan secara sungguh-sungguh.

Salah satu penulis mengisahkan pengalaman pribadinya ketika melihat namanya tercetak dalam buku tersebut. Ia menilai setiap halaman merupakan bentuk dedikasi, bukan sekadar kebanggaan personal. Dalam kontribusinya, ia menulis tentang kenangan tahbisan Uskup Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm., yang berlangsung pada 3 September 2016 di Stadion Gajayana.

Peristiwa itu dipandang bukan hanya sebagai seremoni keagamaan, melainkan jejak spiritual yang menunjukkan fungsi stadion melampaui arena olahraga. Narasi tersebut menekankan Stadion Gajayana sebagai ruang perjumpaan lintas iman, budaya, dan sejarah, sekaligus memperlihatkan ragam cerita yang tersimpan di balik tribun dan lapangan.

Peluncuran resmi buku berlangsung pada Jumat, 19 Desember 2025, di Hotel Grand Mercure Malang Mirama. Acara dibuka oleh Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Kota Malang sebagai Kota Kreatif Dunia bidang Media Art tidak semestinya berhenti pada perayaan, melainkan perlu diikuti langkah nyata, salah satunya melalui penerbitan buku ini.

Buku tersebut juga menyoroti sejarah Stadion Gajayana yang dibangun pada 1 April 1924 bertepatan dengan HUT ke-10 Kota Malang, lalu diresmikan dua tahun kemudian pada 1 April 1926. Stadion ini disebut sebagai salah satu stadion tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga kini. Di usia satu abad, Stadion Gajayana diposisikan sebagai saksi pertandingan, perubahan zaman, dinamika kota, dan kebersamaan warga.

Isi buku merekam beragam pendekatan, mulai dari sejarah, arsip, kronik, puisi, hingga gambaran masa depan stadion. Ketua IKAPI Malang Raya, Gedeon Soerja Adi, menyatakan peluncuran buku ini menandai keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam membangun ekosistem literasi. Pandangan itu sejalan dengan penilaian penulis yang menyebut literasi sebagai cara yang sunyi namun tahan lama untuk menjaga ingatan kota.