BERITA TERKINI
Dinamika Geopolitik Menguji Agenda Transisi Energi di Asia Tenggara dan Indonesia

Dinamika Geopolitik Menguji Agenda Transisi Energi di Asia Tenggara dan Indonesia

Asia Tenggara memasuki fase pertumbuhan ekonomi yang pesat, sebuah tren yang diproyeksikan mendorong kenaikan kebutuhan energi kawasan secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang. Namun, pada saat yang sama, banyak negara anggota ASEAN masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil—terutama batu bara—yang tetap mendominasi bauran energi di kawasan.

Ketergantungan tersebut kian disorot seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan terjadinya gangguan pada rantai pasok energi fosil. Situasi ini memperlihatkan besarnya risiko terhadap ketahanan energi sekaligus kerentanan ekonomi yang dapat dihadapi negara-negara Asia Tenggara ketika pasokan terganggu atau harga bergejolak.

Sebuah publikasi mengkaji bagaimana dinamika geopolitik memengaruhi agenda transisi energi di Asia Tenggara dan Indonesia. Kajian ini menyoroti implikasi yang lebih luas, mulai dari ketahanan energi, daya saing ekonomi, hingga stabilitas kawasan. Di dalamnya, dibahas tantangan kompleks yang dihadapi negara-negara ASEAN dalam menyeimbangkan peningkatan permintaan energi, target pembangunan berkelanjutan, serta upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Publikasi tersebut juga menilai peran dan efektivitas kerangka kerja regional, termasuk ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) dan ASEAN Strategy for Carbon Neutrality, dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan serta memperkuat kerja sama antarnegara di kawasan.

Melalui analisis atas hambatan politik, tata kelola, pembiayaan, dan regulasi, laporan ini menggambarkan tantangan struktural yang dinilai memperlambat adopsi energi terbarukan di Asia Tenggara. Kajian itu menekankan pentingnya penguatan koordinasi kebijakan, mobilisasi investasi, dan kolaborasi strategis regional untuk mendorong masa depan energi Asia Tenggara dan Indonesia yang lebih aman, tangguh, dan rendah karbon.