Musikus legendaris Donny Fattah, salah satu pendiri sekaligus pembetot bas grup rock God Bless, meninggal dunia pada 7 Maret 2026 dalam usia 76 tahun. Donny, yang memiliki nama asli Jidon Patta Onda Gagola, disebut berpulang setelah berjuang melawan penyakit komplikasi.
Dalam perjalanan musik Indonesia, Donny dipandang sebagai sosok penting, baik di tubuh God Bless maupun dalam peta musik Tanah Air. Baginya, musik bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari hidup yang dijalani dengan totalitas, kesungguhan, fokus, pengabdian, dan cinta.
Gambaran mengenai keteguhan Donny tercermin dalam penggalan lirik lagu God Bless berjudul Kukuh yang ia tulis: “Seribu badai silih menghempas... Ku tetap berdiri... Aku di sini menggenggam nilai...” Lirik itu dipandang menggambarkan sikapnya yang tidak beringsut dari musik dalam situasi apa pun.
Abdul Kohar, anggota Dewan Redaksi Media Group, menuliskan pengalamannya bertemu Donny untuk kedua kalinya sekitar sembilan tahun lalu. Pertemuan itu terjadi di Grand Studio Metro TV, saat God Bless melakukan geladi bersih beberapa jam menjelang tampil dalam acara Mata Najwa.
Kohar menyebut pernah berkenalan dengan Donny pada 1991 di balik panggung konser Kantata Takwa di Surakarta (Solo), namun saat itu interaksi terbatas pada foto bersama dan meminta tanda tangan. Pada pertemuan berikutnya di Metro TV, ia memanfaatkan kesempatan untuk berbincang lebih dalam.
Dalam percakapan itu, Donny disebut menyampaikan bahwa ia mengenal Kohar sebagai penonton setia acara Editorial Media Indonesia yang tayang pada pagi hari di Metro TV. Donny mengatakan ia menyukai ulasan dalam program tersebut dan bahkan pernah berusaha menelepon untuk berpartisipasi, meski tidak berhasil tersambung.
Menurut Donny, acara Editorial Media Indonesia mewakili keresahannya. Ia menilai program itu masih setia pada akal sehat dan menangkap keresahan masyarakat. Donny juga disebut mampu menyebut beberapa nama pembedah program tersebut, termasuk Elman Saragih yang ia komentari dengan gaya bercanda.
Dalam kesempatan yang sama, Donny menjelaskan bagaimana ia memaknai musik. Ia menyebut musik sebagai “jalan hidup” dan tidak pernah berpikir mencari jalan lain selain musik. Ia juga menyebut rekan-rekannya di God Bless—Ahmad Albar, Ian Antono, Abadi Soesman, dan Fajar Satritama—sebagai bagian dari jalan yang sama.
Donny mengatakan ia menghormati musikus yang bisa merambah bidang lain seperti akting, bisnis, jabatan publik, hingga politik, tetapi ia menegaskan hal itu bukan pilihannya. Baginya, bermusik adalah bentuk pengabdian yang dijalani sepenuhnya.
Pandangan itu, menurut tulisan tersebut, sejalan dengan lirik yang ia tulis dalam lagu God Bless berjudul Musisi, yang menggambarkan musik sebagai ruang untuk menuangkan bisik hati, cerita jiwa, hingga luapan kalbu.
Bersama God Bless, Donny menapaki perjalanan musik rock Indonesia sejak awal 1970-an. Di tengah perubahan zaman, selera musik yang berganti, serta dinamika industri hiburan, ia disebut tetap setia pada panggung. Bas yang ia petik menjadi penanda konsistensi perjalanannya dari era panggung kecil hingga konser besar lintas generasi.
Dalam tulisan itu, Donny digambarkan sebagai musikus yang berupaya menjaga idealisme dan kebebasan jiwa melalui musik. Ia pun disebut ingin menjaga akal sehat lewat karya-karyanya, sebagaimana ia mengapresiasi program editorial yang ia ikuti.
Donny Fattah dikenang sebagai figur yang menunjukkan ketulusan untuk terus memainkan nada hingga akhir hayat. Ia meninggalkan jejak panjang sebagai bagian dari denyut ritme God Bless dan sejarah rock Indonesia.

