Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan cara orang menikmati musik, DU 68 Musik di Bandung bertahan sebagai salah satu toko rilisan musik fisik yang tetap hidup karena kedekatannya dengan para pelanggan. Toko ini bukan hanya tempat jual beli kaset dan rilisan lain, melainkan ruang pertemuan bagi komunitas pencinta musik yang tumbuh bersama perubahan zaman.
Fenomena yang tercermin dari geliat musik Bandung, menurut kacamata Jeremy Wallach, menunjukkan bahwa paparan budaya global tidak otomatis menghapus suara “lokal”. Ia berargumen, musisi dan masyarakat Indonesia justru membentuk identitas baru yang hibrida: pengaruh Barat diserap dan diolah menjadi sesuatu yang “Indonesia”, bukan sekadar tiruan tanpa arah.
Wallach juga melihat skena musik—terutama underground—sebagai semacam laboratorium sosial. Di ruang itu, kebebasan berekspresi dan solidaritas komunitas dipraktikkan, terutama setelah sebelumnya dianggap tertekan pada masa Orde Baru. Dalam konteks tersebut, DU 68 Musik hadir sebagai saksi sekaligus bagian dari dinamika transisi budaya musik Indonesia, termasuk pada periode peralihan dari rezim diktator Soeharto.
Vickry, yang mengenang masa-masa toko berada di puncak keramaian, menyebut DU 68 Musik pernah menjadi episentrum para kolektor rilisan musik lokal maupun luar. Antusiasme pengunjung begitu tinggi hingga orang menunggu toko dibuka. “Orang menunggu kita buka toko sampai kita harus usir. Saking banyaknya orang,” kenangnya. Para konsumen bahkan mengantre sebelum kunci toko diputar, dan sebagian rela datang dari luar kota.
Seiring waktu, hubungan yang terjalin tidak lagi sekadar transaksional. Vickry mengatakan banyak pelanggan telah menjadi sahabat. “Konsumen yang ke sini, mayoritas memang udah menjadi sahabat kita sebenarnya. Udah sahabat kita semua,” ujarnya. Di antara pertemuan-pertemuan itu, terselip pula cerita personal: ada yang disebut menemukan belahan jiwa di toko tersebut.
Hari ini, DU 68 Musik masih berdiri dengan suasana yang lekat pada memori. Pada suatu sore di Bandung yang dingin, Vickry tampak tetap sibuk di antara deretan kaset, menjaga “desis pita-pita” yang masih berputar meski zaman berubah. Keberadaan toko itu dinilai telah melampaui fungsi unit niaga, menjelma menjadi monumen ingatan perjalanan musik di Kota Kembang.
Bagi Vickry, selama masih ada orang yang mencari “kebahagiaan fisik” dari rilisan musik dan kehangatan nongkrong, pintu toko akan terus dibuka. Namun, ia juga menyimpan kegelisahan tentang masa depan DU 68 Musik. “Jadi saya pikir kalau kita tutup juga sedih juga gitu toko ini. Semoga masih bisa bertahan lama. Karena sejujurnya kalau saya udah gak ada, [toko] ini gak ada lagi,” tuturnya.

