Di atas kulit sapi, sebuah lukisan berpendar kehijauan menarik perhatian. Pada bagian tepinya, bidang berbentuk lingkaran dipasangi lampu tembus cahaya yang menampilkan sosok perempuan memegang bejana sambil menoleh ke samping. Namun ketika diamati lebih dekat, lekuk garis dan imaji yang membentuk sosok itu ternyata tersusun dari rangkaian aksara Jawa yang ditorehkan dengan pena, dikerjakan dengan ketelitian tinggi.
Karya berjudul Kuasa dalam Setara itu mengantarkan Eddy Susanto meraih penghargaan UOB Painting of the Year 2025, Indonesia. Eddy menyebut karyanya terinspirasi dari ukiran bertema Vanitas karya Willem Isaacsz van Swanenburg (1580–1612), lalu memadukan alegori visual Eropa dengan kosmologi Jawa.
Di dalamnya, Eddy membubuhkan teks Rajah Kalacakra serta merujuk filsafat Jawa Serat Sastra Jendra Hayuningrat. Melalui lapisan-lapisan tersebut, ia menghadirkan ruang pembacaan tentang sejarah, mitologi, dan spiritualitas, sekaligus menyoroti bagaimana kuasa membentuk pemahaman peran manusia dalam peradaban.
“Karya ini hadir di atas kulit lembu, yang merujuk pada figur Lembu Andini dalam kisah Sastra Jendra. Ini juga menjadi metafora tentang tubuh, pengorbanan, dan wahana pengetahuan,” kata Eddy.
Bagi Eddy, menulis aksara ke dalam karya seni bukan sekadar meniru bentuk atau mengutip teks kuno. Ia memandangnya sebagai penghormatan pada pengetahuan yang nyaris punah, sekaligus upaya mengaktualisasikannya sesuai semangat zaman. Ketertarikannya pada sejarah membentuk metode penciptaan yang berlapis, berbasis riset mendalam, namun tetap memberi ruang bagi intuisi artistik.
Ia menempatkan seni sebagai ruang perjumpaan di mana orientalisme—cara pandang Barat terhadap Timur—dan oksidentalisme—cara Timur memandang Barat—dapat berdialog secara setara. Melalui karya-karyanya, Eddy mengajak penonton menafsir ulang relasi keduanya tanpa rasa superioritas.
“Dalam sejarah Barat, konsep kuasa sering dihubungkan dengan akal dan logika. Tapi dalam kosmologi Jawa, kuasa itu berlapis, ada tubuh, jiwa, dan semesta,” ujarnya. Dari titik inilah ia berupaya menjembatani dua pengertian yang tampak bertentangan, namun menurutnya saling berkelindan.
Riset, bagi Eddy, bukan sekadar pengumpulan data, melainkan cara memahami struktur berpikir suatu zaman. Ia kerap bekerja sama dengan akademisi sejarah dan filologi dari berbagai universitas untuk membangun paralelisme antara Timur dan Barat. Meski demikian, ia menegaskan karyanya tidak dimaksudkan untuk menemukan kebenaran tunggal, melainkan membuka ruang tafsir. Jika sains bertumpu pada kepastian, ia melihat seni justru merayakan kemungkinan.
“Saya tidak ingin berhenti di visualisasi. Saya ingin tahu konteks, akar, dan semangat zaman dari teks-teks itu,” kata Eddy.
Latar belakangnya berangkat dari dunia grafis. Eddy adalah alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Desain Komunikasi Visual, lulus pada 1996. Pengalaman itu membentuk cara berpikir visualnya tentang bagaimana teks, huruf, dan font dapat menjadi imaji yang kuat. Ia memulai karier sebagai desainer grafis dan perancang sampul buku, terbiasa dengan keteraturan bentuk, keseimbangan komposisi, serta struktur yang sistematis—disiplin yang kemudian ia bawa ketika beralih ke seni rupa.
Namun, berbeda dari dunia desain yang menuntut kecepatan dan efisiensi, seni rupa justru memberinya ruang untuk melambat. Proses menulis aksara di atas kanvas ia sebut sebagai laku ketekunan yang mendekati meditasi. “Saya tidak bisa menekan Ctrl+Z seperti di komputer,” ujarnya. Proses ini dapat memakan waktu berbulan-bulan, menulis huruf demi huruf dengan tinta khusus, memastikan setiap goresan dapat dibaca sekaligus membentuk citra visual. Baginya, yang penting bukan hanya hasil akhir, melainkan perjalanan batin selama proses berlangsung.
Eddy menyebut karyanya sebagai knowledge art, seni yang berakar pada riset sejarah dan filsafat. Setiap proyek baru dimulai dari riset panjang yang melibatkan naskah kuno, teks Jawa, hingga manuskrip Eropa. Salah satu contohnya terlihat dalam seri Java Dürer, ketika ia mengaitkan karya seniman Renaisans Jerman Albrecht Dürer dengan lukisan bertajuk Rhinoceros. Dürer diketahui melukis hewan itu berdasarkan deskripsi tertulis seekor badak yang dikirim Raja Manuel I dari Portugal untuk Paus Leo X.
Melalui pendekatan semacam itu, karya Eddy menjadi cermin yang mengajak penonton tidak hanya mengagumi bentuk, tetapi juga merenungkan bagaimana narasi sejarah dibentuk dan siapa yang menuliskannya. Ia ingin menunjukkan bahwa setiap peradaban memiliki cara sendiri dalam membangun pengetahuan. Setiap karya pun menjadi percakapan lintas waktu—sebuah upaya “menulis waktu” dari masa lalu agar dapat berbicara pada masa depan.
Setelah lebih dari satu dekade berkarya, Eddy dikenal sebagai salah satu seniman konseptual yang serius di Indonesia. Karyanya telah dipamerkan di berbagai negara. Namun, ia menyebut dirinya tidak mengejar sorotan. Bahkan ketika memenangkan ajang UOB, ia menolak mengikuti program residensi ke Singapura.
“Sejak awal saya memang menolak konsep residensi. Sekarang ini banyak yang menjadikannya semacam study tour saja, pergi ke berbagai tempat tanpa jelas apa yang dipelajari. Padahal seharusnya residensi itu ruang studi dan refleksi, bukan sekadar perjalanan,” kata Eddy.

