Musisi muda asal Indonesia, Els Hagia, terus memperluas kiprahnya di industri hiburan internasional. Pada usia 18 tahun, ia disebut berhasil menarik perhatian di Amerika Serikat melalui karya musik serta penampilannya di sejumlah panggung.
Selain dikenal sebagai penyanyi, Els juga aktif sebagai penulis lagu. Peran di balik layar tersebut menjadi bagian dari perjalanan karier internasionalnya yang kini berkembang di Amerika Serikat.
Konsistensinya dalam berkarya turut mengantarkannya bergabung dengan platform generator musik AI global, SUNO. Kehadirannya di platform itu menempatkan Els dalam ekosistem kreatif yang juga diisi para produser musik dunia, termasuk Timbaland.
Meski memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan sebagai instrumen pendukung dalam proses kreatif, Els menegaskan identitas musiknya tetap berangkat dari pengalaman pribadi dan insting bermusik. Ia mencoba memadukan teknologi dengan sentuhan emosional dalam setiap karya yang dibuatnya.
Belum lama ini, Els juga dipercaya tampil dalam program Network di Los Angeles, Amerika Serikat. Dalam acara tersebut, ia didapuk sebagai pembawa acara sekaligus penyanyi utama. Kegiatan itu dihadiri lebih dari 100 seniman, kreator, hingga pengusaha dari berbagai bidang.
Acara tersebut digelar dalam rangka peluncuran buku The 7 Frequencies of Communication karya Erwin Raphael McManus, pembicara TED dan pemikir visioner asal Amerika Serikat. Di hadapan para tamu undangan, Els membawakan single terbarunya berjudul I’ll Be Here yang disebut mendapat sambutan hangat dari audiens.
“Bagi saya, lagu ini adalah simbol keyakinan bahwa seseorang di luar sana percaya akan datangnya hal-hal besar, bahkan ketika kita sendiri meragukannya,” ujar Els Hagia dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026).