BERITA TERKINI
Fadli Zon Prioritaskan Keberlanjutan Ekosistem Museum di Indonesia

Fadli Zon Prioritaskan Keberlanjutan Ekosistem Museum di Indonesia

Jakarta — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan agenda prioritas terkait museum diarahkan pada keberlanjutan ekosistem permuseuman di Indonesia. Menurutnya, program pengembangan museum tidak hanya berfokus pada jumlah, tetapi juga mutu, kualitas, relevansi, serta dampaknya bagi publik.

Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon dalam orasi budaya memperingati Hari Museum Internasional yang digelar di Museum Nasional, Jakarta, Senin. Ia menyebut salah satu agenda yang perlu didorong bersama adalah menjadikan museum sebagai infrastruktur pengetahuan sekaligus institusi pembelajaran publik.

Fadli menilai museum perlu terhubung lebih kuat dengan sekolah, universitas, akademisi, lembaga penelitian, komunitas, dan masyarakat luas. Ia juga menekankan pentingnya relevansi museum bagi generasi muda. Berdasarkan survei Museum dan Cagar Budaya (MCB) pada 2025, lebih dari 70 persen pengunjung museum berusia di bawah 35 tahun, dengan 37 persen berada pada rentang usia 18—24 tahun. Karena itu, pengelola museum dinilai perlu memastikan generasi muda tidak berhenti sebagai pengunjung, melainkan menjadi peserta aktif dalam mendukung pengembangan museum.

Selain itu, Fadli menyebut museum perlu mempercepat transformasi digital untuk mendukung aksesibilitas, konektivitas, dokumentasi, dan pengalaman berkunjung yang baik. Ia menilai pelibatan pengalaman publik menjadi pendekatan yang tepat, termasuk sebagaimana dilakukan museum kelas dunia, agar museum dapat berkembang.

Fadli juga menyoroti pentingnya penguatan pembiayaan dan kemitraan untuk mendukung keberlanjutan museum. Upaya tersebut, menurutnya, dapat dilakukan melalui pendanaan publik dan dukungan pendanaan lain yang lebih kuat, seperti filantropi, kolaborasi lintas sektor, kemitraan pengetahuan, jaringan komunitas, serta keterlibatan masyarakat secara luas.

Ia menambahkan pemerintah turut menghadirkan dukungan pendanaan yang dapat dimanfaatkan museum melalui dana abadi Indonesia Raya, yang sebelumnya bernama Dana Indonesiana. Instrumen ini disebut sebagai pondasi pembiayaan yang lebih stabil, serta mampu memperluas akses, meningkatkan partisipasi pelaku budaya dari berbagai latar, dan menjadi pemantik kreativitas serta kemandirian ekonomi budaya di daerah.

Menurut Fadli, Dana Indonesia Raya juga relevan untuk penguatan ekosistem museum dan warisan budaya karena mendukung kategori seperti restorasi, pemeliharaan artefak budaya, keberlanjutan warisan budaya, pendayagunaan ruang publik, kajian obyek pemajuan kebudayaan (OPK) dan cagar budaya. Ia berharap pengelola museum dapat memanfaatkan dana tersebut sebagai stimulus kegiatan untuk memperkuat ekosistem museum.

Kementerian Kebudayaan mencatat saat ini terdapat 516 museum yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 373 museum atau 72,3 persen telah terdaftar dalam kategori nasional. Sementara itu, terdapat 234 museum atau 45,3 persen yang terstandardisasi sebagai tipe A, B, dan C.

Di sisi lain, Kementerian Kebudayaan tengah melakukan reinventarisasi koleksi yang berada di bawah naungan pemerintah. Langkah ini dilakukan karena terdapat koleksi-koleksi di daerah yang memerlukan riset lebih jauh terkait asal usulnya. Reinventarisasi tersebut diharapkan dapat mempermudah pencatatan hak kekayaan intelektual (HKI) atau intellectual property (IP) yang lebih inovatif.