Dinas Kebudayaan Sumatra Barat melalui UPT Taman Budaya Sumatra Barat akan menggelar Festival Sastra Marah Roesli selama empat hari pada Rabu–Sabtu, 17–20 Desember 2025. Kegiatan ini dipusatkan di Gedung Kebudayaan Sumatra Barat dengan moto “Negeri (dan) Ironi.”
Festival tersebut menghadirkan sejumlah agenda, mulai dari Seminar Sastra Nasional, pameran seni rupa, peluncuran dan diskusi novel serta cerpen, lomba baca puisi, lokakarya penulisan sastra, pemutaran film, hingga pertunjukan seni di kawasan Kota Tua Padang.
Jefrinal Arifin menyampaikan bahwa Marah Roesli, yang dikenal sebagai putra Minangkabau dan pelopor novel modern Indonesia, perlu terus diapresiasi. Menurutnya, festival ini menjadi upaya memperkenalkan kembali pemikiran dan karya Marah Roesli kepada generasi muda.
Ia menilai gagasan kritis dalam novel Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai masih relevan untuk dibaca dalam konteks kekinian, terutama untuk memahami relasi adat, kekuasaan, dan perubahan sosial. Jefrinal juga berharap festival ini dapat menginspirasi penulis sastra di Sumatra Barat.
Jefrinal menegaskan festival ini tidak sekadar perayaan sastra, melainkan penegasan peran sastra sebagai “suara zaman” yang merekam realitas sosial, budaya, hingga persoalan ekologis. Ia menyebut ironi kehidupan dapat direspons secara kritis melalui karya sastra, dari kolonialisme pada masa Marah Roesli hingga kompleksitas persoalan saat ini.
Ia juga menyinggung kuatnya warisan sastra Sumatra Barat yang melahirkan sastrawan seperti Marah Roesli, Abdul Muis, Hamka, Chairil Anwar, A.A. Navis, hingga Wisran Hadi. Karena itu, Padang dinilai layak menjadi tuan rumah festival sastra berskala besar yang menjembatani sastra klasik Minangkabau dengan tantangan kontemporer.
Sementara itu, Kepala Taman Budaya Sumatra Barat, M. Devid, mengatakan Festival Sastra Marah Roesli 2025 dirancang untuk sejumlah tujuan strategis, di antaranya mengenalkan kembali Marah Roesli sebagai pelopor roman modern Indonesia, membina pelaku seni sastra lokal, serta meningkatkan kapasitas penulis muda Sumatra Barat.
Devid menambahkan, festival ini juga diarahkan untuk menguatkan ekosistem sastra melalui kerja sama antara sastrawan, akademisi, penerbit, dan komunitas. Ia menyebut Taman Budaya Sumatra Barat siap menjadi ruang aktualisasi tradisi lisan seperti kaba, dendang, dan pantun, serta warisan sastra tulis Minangkabau. Pelaksanaan festival, menurutnya, disusun secara sistematis dan kolaboratif agar berdampak nyata bagi penguatan literasi dan kebudayaan.
Ketua Pelaksana Festival Sastra Marah Roesli, Ade F. Dira, menjelaskan seminar sastra menjadi agenda utama. Seminar bertema “Sastra sebagai Suara Zaman: Negeri dan Ironi” dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 17 Desember 2025, di Gedung Kebudayaan Sumatra Barat.
Seminar tersebut akan menghadirkan pembicara Sudarmoko (akademisi), Raudal Tanjung Banua (sastrawan), dan Sasti Gotama (sastrawan), dengan moderator Dadi Satria. Ade menyebut seminar ini diharapkan menjadi ruang dialog bagi pelaku, peneliti, dan pencinta sastra untuk menumbuhkan tradisi berpikir kritis dan apresiasi sastra.
Selain seminar, pameran West Sumatera Visual Art Exhibitions (WESVAE) bertajuk Hulu akan digelar pada 16–30 Desember 2025 di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat. Pameran yang dikuratori Iswandi Bagindo Parpatih dan Dio Pamola ini diikuti 38 perupa dari berbagai daerah di Indonesia.
Agenda lainnya meliputi diskusi dan bedah buku antologi cerpen Warung Nasi di Depan Masjid, yang merupakan kumpulan cerpen pemenang Lomba Menulis Cerpen “Negeri (dan) Ironi” pada Juli–Agustus 2025. Diskusi buku ini dijadwalkan pada Kamis, 18 Desember 2025, dengan pembedah Elly Delfia dan Ilhamdi Putra.
Rangkaian festival juga menghadirkan peluncuran dan diskusi novel Leiden: 1920–2020 karya Hasbunallah Harris pada Sabtu, 20 Desember 2025, di kawasan Kota Tua Padang. Novel tersebut merupakan peraih Juara II Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023 dan akan dibahas oleh Muhammad Fadli dengan pemandu Syuhendri.

