BERITA TERKINI
FTI Jakarta Dibuka Adaptasi Karya Y.B. Mangunwijaya dan Ditutup Adaptasi Cerpen Danarto

FTI Jakarta Dibuka Adaptasi Karya Y.B. Mangunwijaya dan Ditutup Adaptasi Cerpen Danarto

Festival Teater Indonesia (FTI) Jakarta resmi digelar pada Minggu, 14 Desember 2025, setelah sebelumnya dihelat di sejumlah kota. Pada penyelenggaraan perdananya, FTI berlangsung pada 1–16 Desember 2025 dan diselenggarakan di empat kota, yakni Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta.

Di Jakarta, rangkaian pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada 14–16 Desember 2025 di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki. Sebanyak lima kelompok teater maupun seniman individu akan tampil, dan seluruh pertunjukan dapat ditonton secara gratis oleh penikmat teater maupun masyarakat umum.

FTI menghadirkan pertunjukan hingga lokakarya sebagai hasil kolaborasi antara Titimangsa dan PENASTRI (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia). Festival ini juga didukung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI.

FTI Jakarta dibuka dengan pertunjukan Burung Manyar Kita oleh Bengkel Seni Embun dari Ambon, Maluku. Karya tersebut diadaptasi oleh Felix Nesi dari novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, dan dipentaskan pada Minggu, 14 Desember 2025, pukul 16.00 WIB.

Adapun penutupan FTI Jakarta dijadwalkan melalui pertunjukan Rintrik oleh Teater Kubur, Jakarta. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari cerpen Godlob karya Danarto, disutradarai oleh Dindon Wahyudin (Dindon W.S), dan akan berlangsung pada Selasa, 16 Desember 2025, pukul 20.00 WIB.

Penggagas Festival Teater Indonesia, Happy Salma, menyampaikan antusiasmenya saat pembukaan festival. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar sesuai visi yang telah lama dirancang bersama tim Titimangsa dan PENASTRI.

Happy juga menekankan harapannya agar FTI tidak hanya menjadi ajang silaturahmi budaya dan kesusastraan, tetapi turut menjadi ruang untuk saling membuka diri serta belajar beradaptasi antarseniman dan individu dari berbagai daerah di Indonesia.

“Sebab setiap wilayah punya kebiasaan yang berbeda-beda. Meski kita punya latar belakang yang berbeda, usia yang berbeda, bahkan minat yang berbeda, panggung bisa menyatukan,” kata Happy.

Selaras dengan itu, Direktur Artistik Festival Teater Indonesia, Sahlan Mujtaba, menjelaskan bahwa FTI tahun ini mengangkat tema Sirkulasi Ilusi. Tema tersebut dipilih untuk menyoroti pertemuan antara realitas dan representasi, sekaligus memperluas sirkulasi gagasan antarseniman di setiap wilayah.

Menurut Sahlan, prinsip dasar kurasi penampil FTI bertumpu pada tawaran konseptual karya, baik dari sisi estetika maupun pilihan karya sastra yang diadaptasi. Selain itu, kurator juga mempertimbangkan kesesuaian kontekstual antara gagasan pertunjukan dengan realitas kota penyelenggara.

“Di samping itu, ada prinsip keadilan representasi, yakni memastikan kesetaraan akses kewilayahan dan generasi. Keberagaman karya juga menjadi perhatian penting, misalnya dalam gaya, medium, maupun pendekatan eksperimental, sehingga penonton dapat menyaksikan spektrum bentuk pertunjukan yang luas,” ujarnya.

Selain pementasan, FTI juga menjadi momentum pemberian Penghargaan Atas Pengabdian Seumur Hidup kepada seniman yang dinilai berkontribusi besar bagi dunia seni pertunjukan, terutama mereka yang dikenal melalui aktivitas dan dedikasinya di kota masing-masing.

Dalam proses pemilihan penerima penghargaan, jejaring komunitas teater lokal diminta mengusulkan nama-nama tokoh yang dianggap memiliki peran penting dalam perkembangan teater. Setiap calon kemudian dikaji berdasarkan rekam jejak artistik, kontribusi, serta relasinya dengan komunitas teater setempat.

“Secara pribadi, saya menaruh hormat yang sangat tinggi kepada individu yang menyerahkan hidup dan dedikasinya bagi seni pertunjukan. Menghidupi dan hidup dari kesenian bukan hanya membutuhkan stamina panjang, tetapi juga integritas dan kesetiaan pada profesi,” ujar Happy.