BERITA TERKINI
Google Integrasikan Model Musik AI Lyria 3 ke Gemini, Bisa Bikin Lagu dari Teks dan Foto

Google Integrasikan Model Musik AI Lyria 3 ke Gemini, Bisa Bikin Lagu dari Teks dan Foto

Google melalui divisi riset DeepMind meluncurkan Lyria 3, model pembuatan musik berbasis AI yang kini terintegrasi langsung ke dalam asisten Gemini. Kehadiran fitur ini memungkinkan pengguna membuat lagu orisinal berdurasi 30 detik hanya dari perintah teks, bahkan dari unggahan gambar atau video pendek.

Berbeda dari layanan pembuatan musik AI yang berdiri sendiri seperti Suno, Lyria 3 ditempatkan langsung di ekosistem Gemini yang diakses lewat browser dan ponsel. Dengan integrasi ini, pengguna dapat menghasilkan musik tanpa perlu berpindah platform.

Selain prompt berbasis teks, Gemini juga dapat menganalisis materi visual—misalnya foto matahari terbenam—untuk menyusun soundtrack yang disesuaikan dengan nuansa gambar atau video tersebut. Fitur ini memperluas cara pengguna memicu pembuatan audio, tidak hanya melalui deskripsi tertulis.

Lyria 3 juga membawa sejumlah peningkatan fitur. Google menyebut adanya alat terintegrasi bernama Nano Banana yang dapat menulis lirik sekaligus menyanyikannya dalam delapan bahasa: Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Hindi, Jepang, Korea, dan Portugis. Pengguna juga diberi kontrol untuk mengatur karakter vokal, tempo, genre—mulai dari pop, funk, hingga lo-fi—serta tekstur akustik.

Dari sisi kualitas, Lyria 3 diklaim menghasilkan audio stereo 16-bit PCM dengan sampling 48kHz. Untuk akses, fitur ini sementara digulirkan gratis di versi web Gemini, sementara dukungan aplikasi seluler disebut akan menyusul dalam beberapa hari.

Soal durasi yang dibatasi 30 detik, Google mengaitkannya dengan kebutuhan konten pendek. Musik hasil AI, menurut data yang dirujuk dalam laporan tersebut, banyak dipakai untuk format seperti YouTube Shorts, Instagram Reels, dan TikTok. Integrasi Lyria ke fitur Dream Track di YouTube juga diposisikan untuk memudahkan kreator membuat musik latar bebas royalti yang spesifik bagi video pendek, langsung di dalam ekosistem Google.

Masuknya Google ke area ini memicu perbandingan dengan layanan lain seperti Suno V5 dan Udio. Dalam uji coba internal yang disebut dilakukan CTOL Digital Solutions, Lyria 3 dinilai unggul pada kebersihan audio, minim artefak khas AI, serta kemampuan menangani instrumen yang terdistorsi. Antarmukanya juga dipuji karena memudahkan proses kreatif.

Namun, uji coba tersebut juga mencatat kelemahan Lyria 3 pada aspek komposisi yang dinilai masih kurang kreatif dibanding Suno V5. Di sisi lain, Suno disebut tetap menarik bagi musisi profesional karena menawarkan fitur pemisahan stem (memisahkan vokal dan instrumen) serta alat pengeditan lanjutan setelah akuisisi WavTool. Kesimpulan CTOL menyebut Lyria 3 sebagai capaian besar, tetapi Suno V5 masih unggul dalam kreativitas musikal.

Di tengah meningkatnya sorotan industri musik global terhadap AI terkait hak cipta data pelatihan, Google menambahkan lapisan pengaman melalui teknologi SynthID. Setiap lagu yang dibuat oleh Lyria 3 akan disisipi watermark digital yang tidak terdengar, tetapi dapat dideteksi oleh perangkat lunak Google. Watermark ini diklaim tetap bisa dilacak meski audio dikompres menjadi MP3, diperlambat, atau direkam ulang melalui mikrofon.

Secara keseluruhan, integrasi Lyria 3 ke Gemini memperluas akses pembuatan musik AI bagi lebih banyak pengguna. Meski belum ditujukan untuk menggantikan kemampuan musisi profesional, langkah ini menandai upaya Google membawa pembuatan musik berbasis AI ke pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian pengguna di web dan perangkat seluler.