Aktris Inggris Hannah Murray, yang dikenal lewat perannya sebagai Gilly dalam serial Game of Thrones, mengungkap pengalaman pahitnya setelah mengikuti sebuah aliran kebugaran atau wellness. Murray mengatakan dirinya sempat mengalami gangguan psikotik serius setelah bergabung dengan kelompok tersebut pada 2017.
Kisah itu disampaikan Murray menjelang peluncuran buku memoarnya berjudul The Make-Believe: A Memoir of Magic and Madness, yang dijadwalkan terbit pada Juni 2026. Dalam memoar tersebut, ia mendokumentasikan perjuangannya menghadapi krisis kesehatan mental yang menurutnya tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Murray menekankan bahwa siapa pun dapat rentan mengalami kondisi serupa, tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun status sosial. Ia menilai banyak orang kerap meremehkan risiko gangguan jiwa dan merasa hal itu tidak mungkin terjadi pada diri mereka sendiri.
Aktris berusia 36 tahun ini juga mengaku sempat merasa aman karena berasal dari keluarga kelas menengah dan memiliki pendidikan tinggi. Namun, ia menyimpulkan bahwa kecerdasan intelektual tidak otomatis melindungi seseorang dari pengambilan keputusan yang keliru.
Menurut Murray, keterlibatannya bermula ketika ia berkenalan dengan seorang “penyembuh energi” di lokasi syuting Detroit. Ia menggambarkan adanya atmosfer emosional dan psikologis yang kuat serta manipulatif di dalam kelompok tersebut. Murray juga menyebut adanya dinamika kekuasaan yang ia rasakan bersifat erotis secara energi meski tidak terjadi kontak fisik langsung.
Ia menceritakan bahwa kelompok tersebut semula didominasi oleh seorang guru perempuan, sebelum kemudian berubah ketika hadir seorang pria karismatik. Murray menilai sosok itu membawa pengaruh seksual yang kuat dan, menurut pengakuannya, sengaja mengubah suasana spiritual yang sebelumnya lembut menjadi lebih agresif dan provokatif. Ia menyebut pola semacam itu kerap terjadi dalam organisasi spiritual yang memiliki struktur hierarki ketat dan tertutup.
Dampak keterlibatan tersebut, kata Murray, berujung fatal bagi kondisi kejiwaannya. Setelah mengalami episode psikotik berat, ia menjalani perawatan intensif di unit psikiatri rumah sakit. Berdasarkan pemeriksaan medis setelah kejadian itu, Murray didiagnosis mengidap gangguan bipolar.
Selain dampak psikologis, Murray juga menyebut mengalami kerugian finansial hingga ribuan dolar AS, yang ia keluarkan untuk memperoleh apa yang dijanjikan sebagai “kebijaksanaan spiritual”. Ia mengatakan pengalaman itu membuatnya menjaga jarak dari segala hal yang berkaitan dengan industri kebugaran dan kesehatan yang tidak terverifikasi.
Kini, Murray mengaku lebih waspada terhadap tawaran solusi kesehatan instan yang beredar luas. Ia menilai praktik wellness kerap dipasarkan oleh orang asing sebagai “obat ajaib” untuk berbagai keluhan, termasuk masalah sederhana seperti sulit tidur. Meski ia mengakui ada versi meditasi atau praktik kesehatan yang positif dan tidak berbahaya, Murray memperingatkan adanya sisi gelap ketika janji solusi mujarab bagi semua persoalan pribadi menjadi candu bagi orang yang sedang rapuh.
Menurutnya, dorongan untuk memperbaiki diri secara instan dan menyeluruh dapat menjadi celah yang dimanfaatkan kelompok-kelompok semacam itu. Murray berharap ceritanya membantu publik memahami bahwa korban yang terjebak dalam aliran serupa tidak semestinya dicap bodoh. Ia menegaskan, siapa pun bisa jatuh ketika sedang mencari pegangan hidup, dan pengalaman itu menjadi pelajaran baginya untuk lebih selektif dalam memilih metode penyembuhan diri di masa depan.