Peringatan Hari Musik Nasional 2026 resmi dimulai di Surabaya pada Minggu (8/3). Pembukaan digelar di kompleks makam Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebagai penanda keterkaitan musik Indonesia dengan sejarah perjuangan bangsa.
Kegiatan yang berlangsung pada 8–9 Maret itu mengusung tema “Gelora Indonesia Raya”. Pemilihan lokasi di makam Supratman disebut bukan sekadar seremonial, melainkan ruang simbolik untuk mengingat bahwa musik pernah menjadi medium perjuangan dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Hari Musik Nasional sendiri ditetapkan pemerintah pada 2013, bertepatan dengan tanggal lahir Wage Rudolf Supratman pada 9 Maret 1903. Lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan secara publik pada Kongres Pemuda II 1928 di Batavia, peristiwa yang kemudian melahirkan ikrar Sumpah Pemuda 1928. Sejak itu, musik nasional tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol persatuan.
Rangkaian pembukaan diawali dengan doa bersama di pusara Supratman, dilanjutkan menyanyikan Indonesia Raya yang dipimpin musisi Arul Lamandau. Setelah itu, panggung sederhana di area makam menjadi ruang ekspresi seni dari berbagai kelompok.
Penampilan pertama datang dari kelompok tari ZR Dance. Puluhan penari cilik membawakan koreografi energik mengikuti lagu “Garuda” ciptaan Heri Lentho Prasetyo. Nuansa kemudian bergeser ke musik klasik saat kelompok Keroncong Impresif Riang Gembira dari Sidoarjo tampil membawakan sejumlah lagu ciptaan mereka.
Ketua pelaksana Hari Musik Nasional 2026 di Surabaya, Heri Lentho Prasetyo, menyatakan tema “Gelora Indonesia Raya” diharapkan dapat menginspirasi musisi Tanah Air. “Melalui tema Gelora Indonesia Raya, kami berharap semangat nasionalisme dan perjuangan Supratman dapat mengilhami musisi tanah air. Perjuangan tidak selalu lewat fisik, tetapi juga lewat karya,” ujarnya.
Warna panggung kemudian berubah ketika pasangan musisi Surabaya, Cak Untung dan Ning Indri, membawakan lagu-lagu rock Indonesia klasik. Sementara itu, duo musisi Madura The Adipoday Snekta Bangkalan menghadirkan musikalisasi puisi dan lagu-lagu bernuansa kritik sosial.
Ketua panitia Nurhayati mengatakan rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari Parade Indonesia Bermusik yang melibatkan komunitas, pelajar, hingga musisi independen. “Kami ingin menghadirkan panggung yang inklusif bagi siapa saja yang mencintai musik,” katanya.
Acara juga menghadirkan Parade Musik Anak sebagai ruang ekspresi generasi muda. Humas kegiatan, Rokim Dakas, menilai keberadaan lagu anak saat ini semakin minim. “Padahal lagu anak sangat penting untuk membangun karakter. Dari sana anak-anak belajar nilai, pesan moral, dan kecintaan pada bangsa,” ujarnya.
Sejumlah apresiator seni turut hadir, termasuk Remy Wicaksono, putra mendiang musisi Gombloh, serta Rudy Anggrek, beberapa nitizen yang aktif di media sosial, dan aktivis.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada 9 Maret melalui agenda Ziarah Musik Indonesia Raya, penampilan sejumlah komunitas musik, serta partisipasi kelompok seperti Higayon Singer, Pino Drummer Cilik, dan komunitas seni lainnya. Puncak acara dijadwalkan melalui program Seribu Suara Pelajar yang melibatkan 1.000 siswa SMP Negeri 3 Surabaya di Gedung Siola untuk menyanyikan Indonesia Raya dalam tiga stanza sebagai simbol pewarisan semangat kebangsaan dari generasi ke generasi.

