BERITA TERKINI
Hari Musik Nasional 2026: Mengenang Yono Prawito, Maestro Kendang Tayub Tulungagung Pencipta Ratusan Lagu

Hari Musik Nasional 2026: Mengenang Yono Prawito, Maestro Kendang Tayub Tulungagung Pencipta Ratusan Lagu

Momentum Hari Musik Nasional 2026 kembali menghadirkan ingatan pada sosok Yono Prawito, tokoh penting dalam perkembangan musik tradisional daerah, khususnya seni tayub di Tulungagung. Yono Prawito dikenal sebagai pengendang sekaligus pencipta lagu-lagu tayub yang karyanya masih dirujuk hingga kini.

Lahir pada 23 Maret 1949, Yono Prawito merupakan maestro kendangan asal Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman, Tulungagung. Di kalangan pelaku seni, namanya lekat sebagai pencipta pola ukel kendang khas Tulungagung yang kemudian menjadi acuan banyak seniman.

Sepanjang hidupnya, Yono Prawito tercatat menghasilkan sekitar 300 karya lagu tayub. Dari jumlah tersebut, sekitar 160 lagu diperkirakan sempat dirilis dalam bentuk album. Putrinya, Purna Istriati, menyebut ayahnya mulai dikenal sebagai pengendang sekaligus pencipta lagu saat berusia sekitar 26 tahun.

Karya pertamanya berjudul Aja Cidra diciptakan pada 1976. “Dari situ bapak mulai aktif menciptakan lagu-lagu tayub,” kata Purna.

Menurut Purna, inspirasi lagu bagi Yono Prawito dapat datang dari berbagai sumber, termasuk pengalaman hidup sehari-hari. Salah satu contohnya adalah lagu Plenggong, yang terinspirasi dari makanan sederhana berbahan ketela yang pernah sering dikonsumsi keluarganya saat kondisi ekonomi terbatas.

Selain menciptakan lagu, Yono Prawito juga merancang pola kendangan sendiri yang kemudian dikenal dengan gaya kendangan gecul. Pola ini berkembang menjadi salah satu ciri khas kendangan tayub Tulungagung. “Gaya kendangan bapak itu unik dan banyak ditiru sampai sekarang,” ujar Purna.

Dalam perjalanan karier seninya, sebagian besar karya Yono Prawito dimainkan bersama kelompok karawitan Mardhi Budaya. Kelompok ini disebut menjadi bagian penting dalam kiprahnya di dunia seni tradisi.

Menjelang akhir hayat, Yono Prawito masih sempat mengarsipkan karya-karyanya. Pada 2004, setahun sebelum meninggal, ia menuliskan arsip lagu menggunakan mesin ketik manual. “Setiap hari beliau mengetik satu lembar arsip lagu. Notasi aslinya masih tulisan tangan bapak dan sampai sekarang masih kami simpan,” jelas Purna.

Yono Prawito meninggal dunia pada 24 September 2005 dalam usia 54 tahun. Meski telah lebih dari dua dekade berlalu, karya-karya dan gaya kendang ciptaannya masih kerap dimainkan oleh seniman tayub di Tulungagung maupun di berbagai daerah lain.

Salah satu lagu ciptaannya yang dikenal masyarakat adalah yang mengiringi reog kendang, yakni Kulon Kutha Tulungagung. Namun, masih ada ratusan judul lain yang pernah ia ciptakan dan menjadi bagian dari jejak panjangnya dalam musik tradisional.