Pemerintah Indonesia menyatakan dukungan terhadap agenda China sebagai ketua bergilir APEC 2026, khususnya dalam mendorong transformasi digital di antara anggota Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik tersebut.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto, mengatakan Indonesia akan mendukung pilar-pilar kerja sama yang diusung China, dengan penekanan pada transformasi digital yang inklusif. Pernyataan itu disampaikan usai ia menghadiri pertemuan Senior Officials' Meeting (SOM) APEC yang berlangsung di Shanghai pada 18–19 Mei 2026.
Menurut Santo, Indonesia mendorong agar transformasi digital memberikan manfaat langsung bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisnis yang dijalankan perempuan, serta usaha yang digerakkan anak muda. Ia menilai dampak nyata transformasi digital terhadap kelompok-kelompok tersebut menjadi fokus yang ingin diperkuat Indonesia dalam kerja sama APEC.
Selain transformasi digital, Indonesia juga menekankan isu ketahanan rantai pasok, baik dalam konteks supply chain resilience maupun supply chain security. Santo menyebut isu itu kian penting, terutama dengan kondisi di Timur Tengah yang dinilai berdampak langsung terhadap rantai pasok, termasuk di Indonesia.
Indonesia juga mengangkat isu pemberdayaan UMKM serta peningkatan partisipasi perempuan dan pemuda dalam perekonomian. Santo menyampaikan, UMKM dinilai memiliki peran penting dalam ketahanan ekonomi nasional, dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja.
Lebih lanjut, Indonesia ingin menunjukkan bagaimana norma-norma yang dibangun bersama di APEC dapat menghasilkan kerja sama konkret berupa program dan proyek yang berdampak langsung bagi masyarakat. Santo menambahkan, hal itu diharapkan dapat membuat partisipasi masyarakat Indonesia dalam kegiatan-kegiatan APEC semakin terlihat.
Dalam konteks yang lebih luas, Indonesia juga berupaya menggunakan mekanisme APEC untuk menegaskan kembali pentingnya perdagangan bebas, arus barang yang bebas, serta investasi. Santo menyinggung adanya tantangan terhadap capaian yang selama ini dibangun, terutama terkait keterbukaan sistem perdagangan dan sistem perdagangan berbasis aturan.
Ia menekankan bahwa Indonesia mendorong agar APEC memberikan manfaat langsung bagi dunia usaha, sekaligus relevan dengan kepentingan bisnis. Menurutnya, itulah sudut pandang utama Indonesia dalam memandang APEC, baik secara umum maupun dalam agenda APEC 2026.
SOM APEC di Shanghai merupakan pertemuan kedua yang digelar di China pada tahun 2026, setelah SOM pertama berlangsung pada 1–10 Februari 2026 di Guangzhou, Provinsi Guangdong. Dalam pembukaan SOM APEC Shanghai, Wakil Menteri Luar Negeri Eksekutif China Ma Zhaoxu menyampaikan bahwa China menargetkan hasil nyata dalam empat agenda, yakni perdagangan, konektivitas, inovasi dan pembangunan, serta pembangunan kerangka kerja sama untuk tindakan kolektif antaranggota APEC.
APEC adalah forum kerja sama yang terdiri dari 21 entitas ekonomi di kawasan lingkar Samudera Pasifik dan berdiri pada 1989. Anggotanya meliputi Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, China, Hong Kong-China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Peru, Papua Nugini, Russia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.