Kolang-kaling dikenal sebagai pelengkap aneka sajian, mulai dari es campur hingga kolak dan manisan. Buah dari tanaman aren (Arenga pinnata) ini kerap digemari karena teksturnya yang kenyal dan rasanya yang ringan. Belakangan, kolang-kaling juga ramai dikaitkan dengan dunia kecantikan karena dianggap kaya kolagen untuk membantu menjaga kulit tetap kencang.
Lantas, benarkah kolang-kaling mengandung kolagen?
Kolagen merupakan kelompok protein struktural yang banyak terdapat pada jaringan tubuh manusia dan hewan, terutama di kulit, otot, tendon, serta tulang rawan sendi. Kolagen dikenal berperan memberi struktur dan kekuatan pada jaringan, melindungi organ tubuh, membantu regenerasi sel kulit, serta menjaga elastisitas kulit. Secara fisik, kolagen juga memiliki karakter yang lentur dan kenyal; gelatin bahkan berasal dari kolagen yang mengalami denaturasi sebagaimana dijelaskan dalam Polymer Science: A Comprehensive Reference.
Kemiripan tekstur inilah yang membuat kolang-kaling kerap diidentikkan dengan kolagen. Sensasi kenyal saat dikunyah dianggap berasal dari kandungan kolagen, karena sekilas menyerupai gelatin.
Namun, dari sisi biologis, kolang-kaling merupakan bahan pangan nabati yang tidak mengandung kolagen. Kolagen adalah protein struktural kompleks yang secara alami diproduksi oleh makhluk hidup berbasis hewani, sehingga kolang-kaling juga tidak dapat disebut sebagai “kolagen nabati”.
Meski demikian, kolang-kaling tetap memiliki sejumlah kandungan yang manfaatnya disebut dapat menyerupai peran kolagen atau mendukung produksi kolagen alami tubuh. Secara umum, kolang-kaling mengandung air, karbohidrat, lemak, serat kasar, serta beberapa vitamin dan mineral. Selain itu, ada tiga komponen yang banyak dibahas terkait efeknya pada kesehatan kulit.
Pertama, galaktomanan. Kekenyalan khas kolang-kaling terutama berasal dari galaktomanan, yaitu polisakarida (serat larut air) yang melimpah pada biji tanaman aren. Uji klinis yang dipublikasikan dalam Pharmacognosy Research menggambarkan galaktomanan memiliki karakteristik fisik berupa lapisan transparan berwarna putih buram dengan tekstur menyerupai plastik. Kemiripan karakter ini kerap dibandingkan dengan visual gelatin dari kolagen. Galaktomanan juga disebut memiliki khasiat anti-penuaan, khususnya yang berkaitan dengan paparan sinar matahari.
Kedua, antioksidan berupa vitamin C. Studi dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science menyebut kolang-kaling murni mengandung vitamin C. Dalam metabolisme manusia, vitamin C berperan sebagai kofaktor dalam proses sintesis kolagen secara alami.
Ketiga, kandungan protein. Laporan dari BIO Web of Conferences menyatakan kolang-kaling mengandung protein dalam fraksi kecil. Protein menjadi salah satu komponen pendukung pembentukan kolagen, bersama vitamin C dan mineral lain.
Dengan demikian, klaim bahwa kolang-kaling mengandung kolagen tidak tepat. Kolang-kaling tidak memiliki kolagen, tetapi mengandung galaktomanan yang berkontribusi pada tekstur kenyalnya dan memiliki sifat yang kerap dianggap “mirip” kolagen. Di sisi lain, kandungan seperti vitamin C dan sedikit protein disebut dapat mendukung proses pembentukan kolagen alami di dalam tubuh.