BERITA TERKINI
Komunitas Sastra Dorong Integrasi Budaya Sumba ke Kurikulum Sekolah

Komunitas Sastra Dorong Integrasi Budaya Sumba ke Kurikulum Sekolah

Upaya melestarikan dan menanamkan nilai-nilai luhur budaya Sumba terus dilakukan melalui jalur seni sastra. Kristopel Bili, penggagas dan pendiri Komunitas Seni Sastra Budaya Sumba (SSBS), Sekolah Wanno, sekaligus Ketua Yayasan Rumah Seni Wanno (YRSW), menilai sastra berperan sebagai “benang merah” untuk merajut tradisi lokal agar tetap relevan bagi generasi muda.

Kristopel menjelaskan, SSBS didirikan pada 2016. Komunitas ini berawal dari amanah guru besar Meleddu Perangi yang dijuluki “Kuda Putih”. Dari perjalanan tersebut, lahir misi pendidikan nonformal berbasis kebudayaan melalui pendirian Sekolah Wano pada 2017, dengan tujuan memberdayakan anak-anak suku di tepi rimba.

Pada 2022, Kristopel kemudian mendirikan Yayasan Rumah Seni Wano (YRSW). Ia menyebut, pendirian yayasan itu menempatkan SSBS dan Sekolah Wano dalam satu kerangka pendidikan literasi nonformal berbasis budaya dan lingkungan, dengan Sekolah Wano bergerak pada pendidikan, sementara SSBS berada pada lini karya sastra.

Menurut Kristopel, misi utama mereka adalah mempertahankan martabat budaya lokal Sumba melalui seni sastra. Di tengah arus modernisasi, ia menyebut posisi sastra Sumba berada dalam kondisi “hibrid”, berdiri di antara sisi sakral dan lisan budaya dengan tuntutan zaman.

Ia memaknai konsep “menyulam budaya” sebagai upaya merajut kembali potongan cerita, dongeng rakyat, legenda, simbol-simbol ritus, dan bahasa menjadi karya sastra yang koheren. Melalui karya-karya itu, komunitas berupaya menyampaikan pesan moral, ide, dan gagasan besar tanpa meninggalkan etika serta nilai tradisi lokal.

Kristopel juga menekankan pentingnya menjaga pola asli kebudayaan, sembari menambahkan inovasi agar tetap dapat diterima generasi sekarang. Ia menyatakan, sastra dapat menjadi sarana untuk mempertahankan akar budaya sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan.

Sementara itu, pegiat Seni Sastra Sumba Vic. Petrus Lende Pare menyoroti sejumlah nilai budaya yang dinilai paling terancam hilang di kalangan generasi muda. Ia menyebut, anak-anak Sumba masih menggunakan bahasa ibu dalam keseharian, tetapi hampir kehilangan “bahasa roh”, yakni bahasa mendalam yang menunjukkan makna-makna penting sebagai orang Sumba.

Petrus juga menilai pemaknaan simbol budaya mulai memudar. Banyak generasi muda tidak memahami filosofi simbol-simbol hidup pada motif kain ikat—seperti ayam, babi, udang, dan kura-kura—dan menganggapnya sebatas hiasan. Hal serupa terjadi pada pemaknaan parang dan belis. Parang yang semestinya menjadi bungkusan dan lambang identitas, menurutnya, kini kerap dipandang sekadar ornamen atau bahkan kehilangan makna hingga berpotensi disalahgunakan. Pemaknaan belis (mas kawin) juga disebut semakin menipis.

Untuk memberdayakan generasi muda, komunitas menjalankan program seperti penulisan antologi puisi, lokakarya, dan festival. Petrus saat ini menyusun kamus bahasa daerah tiga bahasa (bahasa daerah, Indonesia, dan Inggris), serta berniat menerbitkan buku mengenai makna belis sebagai bahan bacaan rujukan.

Di tingkat akar rumput, Petrus mengembangkan pendekatan melalui pembentukan sanggar, salah satunya Sanggar Golureka. Melalui sanggar, anak-anak diajak bermusikalisasi, menari, dan menyanyikan lagu-lagu daerah agar kembali dekat dengan pemaknaan budaya.

Kristopel mendorong agar pelajaran budaya mendapat tempat dalam kurikulum pendidikan. Petrus juga menegaskan pentingnya pembelajaran yang melibatkan kesumbaan, mengingat masyarakat hidup dan beraktivitas di Sumba. Ia menilai, pemahaman sejarah dan budaya sendiri perlu menjadi perhatian agar generasi muda tidak kehilangan akar.

Kristopel menutup dengan ajakan agar sastra digunakan sebagai medium mendidik anak-anak. Menurutnya, pendidikan berbasis sastra dan budaya dapat membantu membentuk pemimpin yang berbudaya, berani, dan berjiwa besar, sekaligus mencegah generasi muda tercabut dari akar budayanya.