Tren membaca buku di kalangan Generasi Z menunjukkan pola yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Di tengah keseharian yang lekat dengan dunia digital, minat baca tumbuh melalui jalur baru, pilihan genre yang lebih personal, hingga aktivitas membaca yang melekat pada gaya hidup.
1. BookTok dan Bookstagram jadi pintu masuk minat baca
Platform TikTok dan Instagram dipenuhi konten rekomendasi buku, pengalaman membaca, serta kutipan-kutipan yang dikemas menarik. Kehadiran akun-akun BookTok dan Bookstagram memudahkan Gen Z menemukan bacaan sesuai preferensi tanpa harus bingung mencari rekomendasi. Media sosial pun menjadi gerbang awal yang mendorong minat baca di kalangan mereka.
2. Genre bacaan cenderung lebih personal
Jika sebelumnya novel romance atau teenlit dengan kisah cinta manis banyak diminati, Gen Z kini cenderung memilih bacaan yang terasa lebih dekat dengan pengalaman pribadi. Buku-buku self help yang mengangkat tema pencarian jati diri, kesehatan mental, dan self love disebut menjadi favorit. Sejumlah judul yang banyak diminati di kalangan Gen Z antara lain Insecurity Is Middle Name karya Alvin Syahrin, Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, Filosofi Teras karya Henry Manampiring, serta Merawat Luka Batin karya dr. Jiemi Ardian, Sp.Kj. Bagi Gen Z, membaca bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara memahami diri sendiri.
3. Buku penulis lokal semakin mendapat tempat
Minat Gen Z tidak hanya tertuju pada buku karya penulis luar negeri. Sejumlah penulis Indonesia juga ramai dibicarakan, seperti Leila S. Chudori lewat Laut Bercerita, Eka Kurniawan melalui Cantik itu Luka, hingga Ziggy Zezsyazeoriennazabrizkie dengan Kita Pergi Hari Ini. Selain nonfiksi, ketertarikan juga terlihat pada novel-novel penulis dalam negeri serta buku bertema historical fiction.
4. Membaca menjadi bagian dari estetika dan gaya hidup
Bagi sebagian Gen Z, membaca bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan juga ekspresi diri. Banyak yang membawa buku dan membaca di kafe atau tempat umum, lalu membagikannya sebagai konten di media sosial. Aktivitas ini menjadi cara menampilkan gaya hidup yang tenang dan mindful.
5. Tren klub buku dan reading challenge ikut mendorong kebiasaan membaca
Minat baca juga berkembang seiring munculnya berbagai klub baca. Salah satu contoh yang disebut adalah “Jakarta Party Book” yang telah memiliki cabang di berbagai daerah, tidak hanya di Jakarta. Selain itu, reading challenge yang digelar klub buku maupun akun Bookstagram turut meramaikan tren. Dari kegiatan tersebut, muncul kebiasaan membaca bersama, saling bertukar rekomendasi, serta berbagi sudut pandang atas buku yang dibaca.
Tren ini menunjukkan bahwa Gen Z bukan generasi yang anti literasi. Meski hidup di ruang digital, mereka tetap menemukan cara menikmati waktu dan mengambil jeda dari hiruk-pikuk melalui aktivitas membaca.

