Musik punk kerap dipahami sebagai gerakan yang sarat amarah, pemberontakan, dan sikap anti-kemapanan. Ketika gelombang punk meledak pada akhir 1970-an lewat band seperti Sex Pistols dan The Clash, peta musik rock ikut berubah. Namun, di tengah antusiasme banyak musisi muda terhadap energi mentah dan gaya serba spontan punk, sejumlah nama besar justru menunjukkan penolakan.
Beberapa musisi senior menilai punk terlalu bising, bahkan dianggap merusak budaya konser rock pada masa itu. Ada yang melihatnya sebagai tren sesaat, ada pula yang secara terbuka mengejek pendekatan musikal dan sikap para pelakunya. Sejumlah kisah juga mencatat adanya benturan langsung antara musisi mapan dan ikon punk.
Berikut lima musisi legendaris yang dikenal vokal menyampaikan ketidaksukaan atau kritik terhadap musik punk, beserta alasan yang mereka kemukakan.
1. Angus Young (AC/DC)
Angus Young menilai rock seharusnya sederhana, tetapi tetap dimainkan dengan kemampuan yang solid. Dalam pandangannya, punk memang memiliki semangat liar yang mengingatkan pada rock klasik, tetapi banyak band punk dianggapnya terlalu berantakan dan terkesan asal main. Ia melihat sebagian grup punk lebih menonjolkan sikap memberontak ketimbang kualitas musik.
Young juga mengeluhkan perilaku sebagian penonton punk di konser. Ia pernah menyoroti kebiasaan meludah ke arah panggung yang membuat suasana pertunjukan menjadi kacau. Dalam wawancara lama, ia menyebut dirinya dan kru AC/DC pernah turun tangan menghadapi penonton yang dinilai kelewatan.
2. David Crosby
David Crosby, yang lekat dengan folk rock bernuansa santai dan harmoni vokal, menilai punk berada di kutub yang berseberangan dengan seleranya. Meski sama-sama bisa memuat kritik sosial, Crosby tidak menghargai pendekatan punk yang menurutnya terlalu sembrono.
Dalam tanggapan di media sosial, Crosby menyebut banyak musik punk tidak memiliki nilai musikal dan liriknya terasa kekanak-kanakan. Pernyataan tersebut memicu reaksi dari penggemar punk, tetapi ia tidak menunjukkan tanda akan mengubah pendiriannya. Bagi Crosby, energi liar saja tidak cukup jika musiknya terdengar asal-asalan.
3. Queen
Ketika punk mulai mendominasi Inggris pada akhir 1970-an, Queen justru dikenal dengan musik yang megah, teatrikal, dan sarat aransemen rumit. Perbedaan karakter ini membuat Queen kerap dipandang sebagai kebalikan dari gerakan punk.
Salah satu momen yang sering dikenang adalah ketika Sid Vicious (bassis Sex Pistols) disebut pernah mengejek Freddie Mercury di studio rekaman. Menurut cerita dari kru Queen, Mercury membalas dengan komentar sarkastik sebelum mengusirnya keluar. Ketegangan itu mempertegas jarak Queen dengan budaya punk yang sedang naik daun. Sebagian penggemar juga meyakini lagu seperti We Are the Champions memuat sindiran halus terhadap scene punk yang dianggap terlalu sinis terhadap rock klasik.
4. David Gilmour (Pink Floyd)
Sebagai figur penting Pink Floyd, David Gilmour sempat menjadi sasaran kritik dari musisi punk. John Lydon misalnya pernah memakai kaus Pink Floyd bertuliskan “I Hate” untuk menunjukkan ketidaksukaannya pada band progresif tersebut.
Meski begitu, Gilmour tidak menyebut dirinya membenci punk sejak awal. Ia mengakui kemunculan punk sempat terasa segar dan penuh energi. Namun, ia menilai pengaruhnya tidak bertahan lama secara musikal. Gilmour menganggap praktik memainkan musik dengan sengaja buruk serta sikap yang terlalu kasar lebih menyerupai fase pemberontakan remaja yang berulang di setiap generasi.
5. John Lydon (Sex Pistols)
Nama John Lydon mungkin terdengar tidak lazim masuk daftar ini karena ia adalah wajah utama Sex Pistols. Namun seiring waktu, Lydon justru kerap mengkritik band-band punk yang muncul setelah kesuksesan grupnya.
Ia menilai terlalu banyak musisi yang hanya meniru gaya Sex Pistols tanpa identitas sendiri. Lydon pernah menyebut banyak band punk generasi berikutnya sebagai peniru yang menjual citra pemberontak kosong. Menurutnya, punk pada awalnya lahir dari frustrasi sosial nyata di Inggris, bukan sekadar gaya rambut, jaket kulit, atau aksesori penuh pin. Ironisnya, salah satu tokoh paling penting dalam sejarah punk kemudian menjadi salah satu pengkritik paling keras terhadap genre yang ikut ia besarkan.
Perdebatan mengenai punk—apakah ia revolusi musik atau sekadar kekacauan penuh amarah—masih terus berlangsung. Yang jelas, kemunculannya meninggalkan jejak besar dalam sejarah rock, sekaligus memunculkan reaksi keras dari sebagian musisi legendaris yang menuntut standar musikal dan etika panggung berbeda.