Putri Fateemah (28) mengaku menjalani lima tahun yang tidak mudah sejak lulus kuliah pada 2019. Lulusan Sarjana Pendidikan Seni itu mengatakan sudah melamar ke ratusan perusahaan, namun lamaran-lamarannya berujung penolakan. Di tengah upaya mencari pekerjaan, Putri tetap mengejar mimpinya menjadi penulis, meski langkah itu justru membuatnya dicap sebagai “sarjana nganggur” oleh sebagian keluarganya.
Putri meyakini dirinya termasuk dalam kelompok penganggur bergelar sarjana yang sempat meningkat pada masa pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penganggur bergelar sarjana di Indonesia naik dari 746,35 ribu orang pada 2019 menjadi 981,2 pada 2020.
Menurut Putri, pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang membuat pencarian kerja semakin sulit. Ia mengatakan pada masa itu banyak perusahaan tidak membuka lowongan, bahkan ada yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Aku nggak pernah pilih-pilih perusahaan karena waktu itu yang penting aku kerja, bisa bantu orang tua,” ucap Putri saat dihubungi Mojok, Kamis (11/12/2025).
Putri menyebut sebagian besar lamaran ia kirimkan secara daring. Ia juga beberapa kali mengikuti wawancara, namun tidak ada panggilan lanjutan. Sambil terus mengirim lamaran, ia mencoba mencari pekerjaan lepas sebagai penulis konten (content writer) dan mulai menulis naskah ceritanya sendiri.
Alih-alih mendapat dukungan, Putri mengaku justru menjadi bahan pembicaraan di lingkungan keluarga. Ia mengatakan om dan tantenya kerap menyinggung gelar sarjananya dan menyebutnya sebagai contoh buruk bagi anak-anak mereka.
“Mereka mengungkit-ungkit gelar sarjanaku, katanya aku cuman jadi bahan percontohan yang buruk untuk anak-anak mereka, karena setelah kuliah malah nganggur,” ucap Putri.
Di desanya, Putri merasa label “sarjana pengangguran” semakin melekat karena ia jarang keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk mengetik. Ia mengaku kondisi itu membuatnya tidak nyaman berinteraksi dengan orang sekitar karena merasa dinilai dari statusnya.
Tekanan tersebut bertambah ketika upayanya menulis buku juga belum membuahkan hasil. Setelah menyelesaikan naskah selama satu tahun, Putri mengatakan ia kembali menerima penolakan, kali ini dari penerbit.

