Pengusaha batu bara Low Tuck Kwong kembali menambah kepemilikannya di PT Bayan Resources Tbk. (BYAN). Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI), ia memborong total 6 juta lembar saham BYAN sejak pekan kedua Mei 2026 melalui PT Maybank Sekuritas Indonesia.
Transaksi tersebut dilakukan dalam dua tahap. Pada 13 Mei 2026, Low Tuck Kwong membeli 3 juta lembar saham sehingga total kepemilikannya menjadi sekitar 13,40 miliar saham atau 40,23%. Selanjutnya pada 18 Mei 2026, ia kembali membeli 3 juta lembar saham, membuat kepemilikannya naik menjadi 13.412.921.870 lembar saham atau setara 40,24%.
Pergerakan kepemilikan ini menjadi sorotan karena terjadi menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BYAN yang dijadwalkan pada 10 Juni 2026. Dalam keterbukaan informasi di BEI, Corporate Secretary Bayan Resources, Jenny Quantero, menyampaikan rapat akan digelar pukul 14.00 WIB di Hotel Fairmont Jakarta.
RUPST BYAN tahun ini memuat sedikitnya enam agenda, antara lain persetujuan laporan tahunan dan laporan keuangan, penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, serta perubahan atau pengangkatan kembali direksi dan komisaris. Agenda lain mencakup penunjukan akuntan publik, penetapan remunerasi dewan komisaris dan direksi untuk 2026, serta persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan.
Fokus pasar turut tertuju pada agenda penggunaan laba bersih yang berpotensi terkait pembagian dividen. BYAN tercatat telah membagikan total dividen sebesar US$4,6 miliar dalam lima tahun terakhir. Untuk tahun buku 2023, dividen tercatat US$800 juta, sementara tahun buku 2024 sebesar US$700 juta. Adapun dividend payout ratio periode 2020–2024 disebut mencapai sekitar 75%.
Manajemen sebelumnya juga menyampaikan bahwa perseroan memiliki rekam jejak dalam memanfaatkan kas untuk menurunkan leverage sekaligus mengembalikan kelebihan kas kepada pemegang saham melalui pembagian dividen.
Dari sisi kinerja, pada kuartal I/2026 BYAN membukukan pendapatan US$821,6 juta atau sekitar Rp13,96 triliun, turun 7,70% secara tahunan dari US$890,15 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih tercatat US$190,79 juta atau sekitar Rp3,24 triliun, turun 12,45% dari US$217,91 juta pada kuartal I/2025. Pendapatan perseroan masih terutama ditopang segmen batu bara.
Untuk 2026, BYAN menetapkan panduan operasional dan keuangan antara lain target pendapatan US$1,8 miliar hingga US$3,8 miliar, target produksi batu bara 39 juta hingga 76 juta ton, serta proyeksi penjualan 39 juta hingga 78 juta ton. Perseroan juga memperkirakan biaya tunai produksi US$36–US$42 per ton, target harga jual rata-rata US$46–US$48 per ton, dan rasio pengupasan tanah 4,8 hingga 5,2 kali.
Untuk mendukung rencana kerja tersebut, BYAN menyiapkan belanja modal (capex) sekitar US$200 juta hingga US$300 juta pada 2026, setara sekitar Rp3,38 triliun hingga Rp5,07 triliun. Sebagai pembanding, realisasi capex sepanjang 2025 mencapai US$181,7 juta, lebih rendah dibandingkan alokasi anggaran capex 2025 sebesar US$399,2 juta.