BERITA TERKINI
Mahasiswa UM Telusuri Jejak Sastra Lisan Lewat Kunjungan ke Museum dan Panggung Seni di Solo–Yogyakarta

Mahasiswa UM Telusuri Jejak Sastra Lisan Lewat Kunjungan ke Museum dan Panggung Seni di Solo–Yogyakarta

Mahasiswa Program Studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) sebagai bagian dari pembelajaran luar ruangan dalam mata kuliah Sastra Lisan. Kegiatan rutin ini berlangsung selama dua hari, 14–15 Mei 2025, dengan tema “Menelusuri Jejak Sastra Lisan dalam Denyut Budaya melalui Pustaka Tradisi hingga Panggung Tari.”

KKL diikuti 83 mahasiswa dan didampingi empat dosen. Rangkaian kegiatan dirancang untuk mengintegrasikan teori yang dipelajari di kelas dengan realitas budaya di lapangan, sekaligus memperluas pemahaman mahasiswa mengenai bentuk-bentuk sastra lisan melalui pengamatan langsung.

Pada hari pertama, 14 Mei 2025, rombongan mengunjungi Museum Radya Pustaka di Kota Solo. Museum yang dikenal sebagai salah satu museum tertua di Indonesia ini menyimpan beragam koleksi, seperti manuskrip kuno, keris, serta peninggalan sastra Jawa. Di lokasi tersebut, mahasiswa mengamati artefak yang berkaitan dengan tradisi lisan dan sejarah budaya masyarakat Jawa.

Kegiatan berlanjut pada hari kedua, 15 Mei 2025, di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Museum ini memiliki koleksi kebudayaan Jawa, antara lain alat musik tradisional, wayang, dan naskah-naskah kuno yang menjadi sumber penting dalam kajian sastra lisan.

Rangkaian KKL ditutup dengan menyaksikan pertunjukan budaya Ballet Prambanan, sebuah sajian dramatari yang mengangkat kisah epik dari sastra klasik, seperti Ramayana. Melalui pertunjukan ini, mahasiswa diajak melihat bagaimana karya sastra klasik hadir dalam bentuk seni pertunjukan.

Penyelenggara menekankan bahwa KKL tidak hanya dimaksudkan sebagai perjalanan akademik atau wisata edukatif. Mahasiswa didorong berperan aktif dengan mendokumentasikan, menafsirkan, dan merefleksikan temuan selama kunjungan, sekaligus melatih kemampuan analisis terhadap dinamika sejarah dan kehidupan masyarakat.

Selain memperkuat pemahaman materi yang sebelumnya dinilai abstrak, kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap budaya lokal serta mengenalkan sumber-sumber tradisi, mulai dari arsip budaya, transkripsi sastra, hingga seni pertunjukan.

Salah satu peserta, Aghizka, menyebut kegiatan tersebut memberi pengalaman belajar yang lebih kontekstual. “Sangat menyenangkan, dengan adanya KKL juga dapat menambah wawasan mengenai ilmu yang diperoleh dan cara penerapannya di kehidupan nyata,” ujarnya.

Melalui KKL ini, mahasiswa diharapkan membangun kedekatan intelektual dan emosional dengan kekayaan budaya bangsa, sekaligus terdorong untuk ikut melestarikan dan mengembangkan khazanah sastra lisan sebagai bagian dari identitas nasional.