Lagu “Perdamaian” yang dipopulerkan grup musik Gigi dikenal memuat pesan tentang kerinduan manusia pada kehidupan yang tenteram. Namun, liriknya sekaligus menyoroti ironi: banyak orang mengaku mencintai damai, sementara konflik dan peperangan tetap terjadi.
“Perdamaian” diciptakan oleh KH Bukhori Masruri, seorang ulama yang juga dikenal sebagai Abu Ali Haeda. Lagu ini pertama kali dirilis oleh Nasida Ria pada 1982, sebelum kemudian diaransemen ulang oleh Gigi dan dirilis dalam album Raihlah Kemenangan pada 2005.
Dalam versi Gigi, nuansa kritik sosial terasa lebih menonjol. Aransemen pop-rock yang lebih keras dan progresif mempertegas kegelisahan yang tersirat dalam lirik, terutama pada penggalan yang menekankan kontradiksi antara harapan akan damai dan realitas perang yang “semakin ramai”.
Meski dibalut warna musik yang lebih modern, pesan religius yang menjadi inti lagu tetap dipertahankan. “Perdamaian” diposisikan sebagai nilai moral yang perlu dihidupkan dalam keseharian. Kemasan rock membuat pesan spiritual itu terasa lebih dekat bagi pendengar masa kini, tanpa mengubah gagasan utamanya.
Aransemen ulang tersebut juga mengubah emosi lagu: dari nuansa doa menjadi pernyataan sikap. Intensitas vokal dan dinamika instrumen memberi kesan bahwa perdamaian bukan sekadar harapan pasif, melainkan sesuatu yang perlu diperjuangkan sebagai sikap aktif.
Lebih dari dua dekade setelah versi Gigi dirilis, “Perdamaian” dinilai tetap relevan. Adaptasi lintas genre menunjukkan bahwa pesan damai dapat terus hidup dan menjangkau audiens lebih luas, sekaligus mengingatkan kembali pada realitas sosial yang kerap bertolak belakang dengan cita-cita kedamaian.

