Dominasi K-pop di tangga lagu Asia Tenggara disebut mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir, seiring menguatnya musik lokal di sejumlah negara ASEAN. Gambaran tren itu terlihat dari grafik yang diunggah akun X @tsurezure_lab, yang menunjukkan penurunan porsi K-pop sejak 2023 di beberapa pasar regional.
Di Indonesia, grafik tersebut mencatat porsi musik lokal (Indo Pop) naik dari 60% menjadi 78% di tangga lagu, sementara K-pop turun hingga 1%. Tren serupa terlihat di Thailand: musik lokal meningkat dari 65% ke 78%, sedangkan K-pop turun dari 27% menjadi 11%.
Di Filipina, musik domestik juga dilaporkan menguat, naik dari 44% menjadi 63%. Pada saat yang sama, Western Pop disebut menurun hingga 14%.
Malaysia turut mengalami perubahan komposisi. Dalam data yang sama, musik Indonesia di Malaysia tercatat bertumbuh dari 18% menjadi 22%, sementara K-pop turun ke 13%.
Adapun Singapura disebut relatif lebih stabil, dengan Western Pop dan K-pop masih menempati porsi besar, meski lagu-lagu lokal dan regional mulai perlahan mengisi ruang di tangga lagu.
Sejumlah faktor disebut berkontribusi terhadap perubahan ini. Mengutip KBIZoom, pendengar dinilai semakin merasa dekat dengan lirik berbahasa ibu, sementara kualitas produksi musisi lokal disebut kian kompetitif. Fenomena ini juga dikaitkan dengan meningkatnya kebanggaan terhadap musik lokal.
Di Indonesia, lagu-lagu lokal disebut semakin sering menempati posisi atas Top 50 Spotify, termasuk seiring menguatnya genre hipdut dalam beberapa tahun terakhir. Sementara di Malaysia, pengaruh Indo Pop dan lagu-lagu lokal disebut mulai menggeser dominasi lagu dari Korea Selatan.
Pembahasan mengenai penurunan porsi K-pop ini juga ramai di komunitas daring seperti Pannchoa dan TheQoo, yang menyoroti indikasi tren serupa di pasar lain. Meski basis penggemar K-pop masih besar, data tersebut dipandang sebagai sinyal menguatnya posisi musisi lokal di negara masing-masing.