BERITA TERKINI
Musik Musim Semi dan Cara Gen Z Memaknai Tradisi Lewat Lagu

Musik Musim Semi dan Cara Gen Z Memaknai Tradisi Lewat Lagu

Musik bertema musim semi kembali menjadi perhatian, terutama di kalangan Generasi Z. Sejumlah lagu terbaru tidak lagi hanya menonjolkan suasana meriah, melainkan juga mengangkat emosi yang dekat dengan kehidupan anak muda masa kini—mulai dari nilai keluarga, kerinduan pada kampung halaman, kenangan masa muda, hingga cara baru memandang tradisi.

Dalam beberapa waktu terakhir, tren musik musim semi berkembang ke arah yang lebih personal. Jika pendengar yang lebih tua cenderung setia pada lagu-lagu musim semi yang dianggap klasik, Gen Z justru banyak menyukai karya yang menggabungkan gaya pop, hip-hop, atau balada dengan lirik hangat tentang pengalaman merantau, tekanan hidup, dan momen pulang.

Salah satu contoh yang disebut adalah “Returning Home” dari rapper Wxrdie bersama JustaTee. Lagu ini dipandang dekat dengan penonton muda karena menggambarkan dorongan untuk “kembali kepada diri sendiri” melalui keluarga sebagai sumber dukungan. Lagu tersebut juga membangkitkan situasi yang akrab bagi banyak anak muda, seperti mengemas barang untuk pulang kampung menyambut Tahun Baru setelah menjalani studi atau bekerja jauh dari rumah.

Contoh lain adalah lagu berjudul “Jika kamu terlalu sengsara, pulanglah dan biarkan ibumu merawatmu.” Lagu ini tidak menampilkan elemen Tet yang lazim seperti bunga, uang keberuntungan, atau hidangan khas, tetapi tetap diposisikan sebagai lagu musim semi yang bermakna. Fokusnya berada pada perasaan anak yang jauh dari rumah, tekanan pekerjaan, serta pengingat lembut dari ibu bahwa keluarga tidak menuntut materi, melainkan menginginkan anaknya sehat dan pulang.

Menurut gambaran dalam berita tersebut, pola semacam ini menjadi rumus umum lagu musim semi belakangan: lirik sederhana namun dalam, dikombinasikan dengan vokal yang ekspresif, sehingga membentuk “simfoni emosional” bagi Gen Z saat memasuki musim Tahun Baru Imlek.

Di sisi lain, musik musim semi juga hadir lewat tema reflektif. Penyanyi Ha Anh Tuan, misalnya, merilis “One Year Gone By” pada Hari Tahun Baru 2026. Lagu ini digambarkan bukan sekadar dialog dengan cinta masa lalu, tetapi juga ruang untuk menghadapi sisi diri yang sulit diucapkan. Alih-alih menonjolkan kebencian atau rasa sakit, lagu tersebut memilih menengok ke belakang dengan tenang, penerimaan, dan pemahaman—dengan cinta menjadi pintu masuk untuk membahas kehilangan, belajar melupakan, serta mempertahankan hal yang dibutuhkan untuk melangkah maju.

Musik musim semi 2026 juga disebut membawa pesan yang mempertemukan generasi. Quang Hung MasterD, melalui “Melangkah Menuju Tet Baru,” menyampaikan gagasan bahwa Tet 2026 dapat menjadi “Tet yang baru” ketika anak muda mengambil peran lebih aktif. Dalam pandangannya, generasi muda tidak hanya menikmati perayaan, tetapi ikut memperbarui dan menghubungkan anggota keluarga serta komunitas melalui tindakan kecil yang praktis dan hangat—termasuk mengubah tren media sosial menjadi momen kebersamaan keluarga.

Secara umum, musik musim semi yang tidak selalu menyebut Tet secara langsung disebut menjadi kecenderungan beberapa tahun terakhir. Lagu-lagu tetap berada dalam konteks budaya, tetapi lebih banyak “menginterpretasikan ulang” tradisi dengan gaya musik populer seperti rap ringan, balada pop, serta unsur bercerita melalui visual dalam video musik. Pendekatan ini dinilai membuat musik musim semi terasa lebih dekat dengan pengalaman anak muda yang hidup cepat, kerap jauh dari rumah, dan memandang Tet sebagai waktu untuk kembali ke akar emosional.

Peran platform seperti TikTok, YouTube, dan layanan streaming turut memperkuat popularitas lagu-lagu tersebut. Melalui klip video, potongan lirik, dan emosi yang dibagikan, pendengar muda ikut membentuk ulang pengalaman mereka terhadap momen Tahun Baru. Sejumlah lagu kemudian menjadi hit musim semi, termasuk “Returning Home” (Wxrdie ft. JustaTee), “Jika kamu terlalu sengsara, pulanglah dan biarkan ibumu merawatmu,” serta “What Did We Do This Past Year?” dari Noo Phuoc Thinh.