BERITA TERKINI
Netflix Hentikan Fitur Casting di Aplikasi Seluler, Teknologi Layar Kedua Tetap Berkembang

Netflix Hentikan Fitur Casting di Aplikasi Seluler, Teknologi Layar Kedua Tetap Berkembang

Netflix menghentikan fitur casting dari aplikasi selulernya ke berbagai TV pintar dan perangkat streaming. Keputusan yang diambil tanpa pemberitahuan sebelumnya itu menandai perubahan besar bagi fitur yang historisnya justru ikut dipopulerkan Netflix sejak lebih dari satu dekade lalu.

Setelah perubahan tersebut, dukungan casting Netflix kini terbatas pada adaptor streaming Chromecast model lama yang tidak dilengkapi remote, layar pintar Nest Hub, serta sejumlah TV pintar tertentu dari Vizio dan Compal. Padahal sebelumnya, Netflix memungkinkan casting ke beragam perangkat yang secara resmi mendukung teknologi casting Google, termasuk perangkat Android TV dari sejumlah merek seperti Philips, Polaroid, Sharp, Skyworth, Soniq, Sony, Toshiba, dan Vizio.

Sebelum perubahan yang terjadi bulan lalu, Netflix juga menyediakan fungsionalitas casting yang dikenal sebagai “Netflix 2nd Screen” pada berbagai perangkat lain. Dukungan itu mencakup konsol PlayStation, TV buatan LG dan Samsung, serta perangkat streaming dan TV Roku. Dengan kata lain, pada periode sebelumnya, sebagian besar TV pintar atau perangkat streaming yang menjalankan aplikasi Netflix juga dapat digunakan sebagai tujuan casting.

Langkah Netflix ini kontras dengan sejarah awal teknologi layar kedua. Pada 2011, sejumlah insinyur Netflix mengeksplorasi cara mengintegrasikan ponsel pengguna dengan TV secara lebih erat. Scott Mirer, yang pada 2013 menjabat direktur manajemen produk di Netflix, menyebut pada waktu yang hampir bersamaan tim YouTube juga tertarik pada gagasan serupa dan mulai mengerjakan kasus penggunaan layar kedua.

Kolaborasi kemudian melibatkan produsen TV seperti Sony dan Samsung dan menghasilkan DIAL (Discovery and Launch), protokol layar kedua terbuka yang memformalkan konsep casting. Pada 2012, Netflix menjadi layanan streaming besar pertama yang menambahkan fitur casting ke aplikasi selulernya, yang saat itu memungkinkan pemilik PlayStation 3 meluncurkan pemutaran video dari ponsel. Setahun berselang, Google meluncurkan dongle Chromecast pertama, yang mengambil ide dari DIAL dan menggabungkannya ke dalam teknologi casting milik Google.

Dalam beberapa tahun, casting sempat menjadi fitur yang sangat populer. Google dilaporkan berhasil menjual lebih dari 100 juta adaptor Chromecast, sementara Vizio pernah membangun TV yang berpusat pada casting dengan menyertakan tablet sebagai pengganti remote fisik. Namun seiring berkembangnya kemampuan TV pintar dan meningkatnya investasi layanan streaming pada aplikasi bawaan di TV, kebutuhan terhadap casting perlahan menurun. Seorang operator layanan streaming menyebut casting dulunya sangat penting bagi layanannya, tetapi kini—bahkan di kalangan pengguna Android—hanya sekitar 10 persen yang memakai fitur tersebut.

Netflix tidak memberikan komentar saat dimintai penjelasan mengenai penghentian fitur ini. Salah satu dugaan yang mengemuka adalah casting dikorbankan demi pengembangan fitur baru seperti cloud gaming dan pemungutan suara interaktif. Pengembangan gim, misalnya, sudah melibatkan konektivitas multi-perangkat karena Netflix menggunakan ponsel sebagai pengontrol. Menambahkan casting dalam skenario semacam itu dinilai berpotensi menambah kompleksitas.

Meski Netflix mundur, dukungan untuk casting di ekosistem lain masih bergerak. Bulan lalu, Apple menambahkan dukungan Google Cast ke aplikasi Apple TV di Android untuk pertama kalinya. Dalam dua tahun terakhir, Samsung dan LG juga disebut telah menggabungkan teknologi casting Google ke sebagian perangkat TV mereka.

Dari pihak Google, Neha Dixit selaku PM Platform Android menyatakan Google Cast tetap menjadi pengalaman yang terus diinvestasikan, dengan tujuan memudahkan berbagi konten dari ponsel ke TV, baik di rumah maupun saat menginap di hotel. Ia juga menyebut akan ada pembaruan lebih lanjut pada tahun ini.

Di sisi lain, casting juga menghadapi persaingan dari Connectivity Standards Alliance (CSA), konsorsium di balik standar rumah pintar Matter, yang mengembangkan protokol Matter Casting. Matter Casting menjanjikan pendekatan yang lebih terbuka dan secara teori memungkinkan layanan streaming serta produsen perangkat menghadirkan pengalaman layar kedua tanpa perlu membuat kesepakatan dengan Google.

Tapas Roy, VP Amazon Device Software & Services, mengatakan perusahaannya mendukung penggunaan standar terbuka untuk memberi lebih banyak pilihan kepada pelanggan dan menyambut pengembang media yang ingin membangun standar terbuka melalui implementasi Matter Casting.

Namun, dukungan Matter Casting sejauh ini masih terbatas. TV Fire dan layar Echo Show disebut menjadi perangkat yang mendukung Matter Casting, sementara aplikasi milik Amazon menjadi satu-satunya yang memanfaatkan fitur tersebut. Bulan lalu, layanan Tubi juga dilaporkan mengintegrasikan Matter Casting ke aplikasi selulernya.

Christopher LaPré, ahli strategi teknologi di CSA, mengakui Matter Casting belum menjadi terobosan besar. Ia menilai selain keterbatasan konten, Matter Casting juga menghadapi kebingungan merek karena produsen TV mulai mengadopsi Matter untuk fungsi rumah pintar seperti mengontrol lampu dan termostat. Akibatnya, TV yang menampilkan logo Matter belum tentu mendukung Matter Casting.

Meski demikian, LaPré melihat potensi dorongan dari dua perkembangan: Matter baru-baru ini menambahkan dukungan untuk kamera yang membuka peluang konten buatan sendiri untuk di-cast, dan CSA masih mengupayakan perluasan casting melampaui layar. Ia menyebut audio casting sebagai salah satu fokus yang sedang dikerjakan, dengan rencana peluncuran audio casting Matter pada akhir tahun ini.