BERITA TERKINI
Nostalgia Musik 90-an dan Perubahan Model Bisnis Industri Musik

Nostalgia Musik 90-an dan Perubahan Model Bisnis Industri Musik

Banyak pendengar merasa lagu-lagu era 1990-an hingga awal 2000-an terdengar lebih “berarti”. Album pada masa itu kerap dikenang lebih kuat, lebih berkesan, dan terasa utuh dari awal sampai akhir—seolah setiap lagu punya alasan jelas untuk ada di dalamnya. Namun di balik nostalgia tersebut, ada faktor yang sering luput dibahas: perubahan model bisnis industri musik yang mengubah cara musik dibuat, dirilis, dan menghasilkan uang.

Pada 1990-an hingga awal 2000-an, menikmati album artis favorit umumnya mengharuskan orang membeli CD atau kaset terlebih dahulu. Harga album disebut berada di kisaran 15 dolar AS, atau sekitar Rp 150.000–Rp 200.000 pada awal 2000-an. Konsekuensinya, pendengar harus membayar di muka sebelum bisa menikmati satu lagu pun.

Kondisi itu ikut memengaruhi cara label dan musisi menyusun album. Karena audiens mengeluarkan uang di awal, album perlu terasa layak dibeli. Pemilihan lagu dilakukan lebih ketat dan ruang untuk lagu pengisi (filler) menjadi kecil. Secara tidak langsung, model ini mendorong artis merancang album yang solid, karena kualitas yang terasa setengah-setengah berisiko membuat pendengar enggan membeli rilisan berikutnya.

Situasi tersebut berbeda dengan era streaming. Dalam model ini, keterkaitan antara musik dan uang menjadi lebih tidak langsung. Disebutkan bahwa seorang artis baru memperoleh pendapatan yang setara dengan pembelian album Rp 150.000 setelah sekitar 5.000 kali pemutaran (stream). Pendengar pun tidak harus membeli album secara utuh; mereka bisa langsung mendengarkan lagu secara gratis atau lewat layanan berlangganan yang relatif murah.

Dampaknya, cara konsumsi musik ikut berubah. Album tidak selalu menjadi format utama, sementara banyak artis memilih merilis single secara berkala. Salah satu alasannya, algoritma layanan streaming cenderung menyukai konten yang sering muncul.

Untuk memahami perubahan ini, perlu menengok akhir 1990-an, ketika internet mulai menjadi arus utama di banyak negara. Pada periode 1995–1999, akses komputer dan koneksi internet semakin meluas dan membuka jalan bagi perubahan besar dalam cara orang mengakses musik.

Pada 1999, Napster diluncurkan dan memungkinkan pengguna berbagi file musik secara gratis melalui jaringan peer-to-peer. Untuk pertama kalinya, orang dapat mengunduh lagu tanpa membeli CD atau kaset. Pilihan yang muncul saat itu sederhana: membeli musik atau mengunduhnya secara gratis—dan banyak orang memilih opsi kedua.

Setelah Napster, platform berbagi file lain bermunculan, seperti Limewire, Frostwire, hingga PirateBay. Musik bisa diunduh dalam hitungan menit tanpa biaya. Bagi penggemar, ini terasa seperti revolusi. Namun bagi industri musik, situasi tersebut menjadi krisis karena pendapatan label rekaman disebut anjlok dan artis kehilangan sumber penghasilan utama. Pembajakan digital juga disebut berdampak pada industri film dan televisi.

Label rekaman sempat menempuh jalur hukum dengan menuntut pengguna yang mengunduh musik ilegal. Namun langkah itu dinilai tidak realistis dan tidak efektif, karena menuntut jutaan penggemar musik bukan solusi yang dapat dijalankan.

Dari situ, muncul pendekatan baru yang berupaya menawarkan akses legal yang praktis dan murah. Perusahaan teknologi yang didukung pendanaan ventura mengembangkan model distribusi digital yang kemudian melahirkan platform streaming seperti Spotify dan layanan video seperti Netflix. Gagasannya: jika konten digital bisa diakses dengan mudah dan terjangkau, orang mungkin berhenti membajak.

Strategi ini disebut cukup berhasil menurunkan praktik unduhan ilegal secara signifikan. Namun, streaming juga membawa konsekuensi baru bagi industri musik, terutama terkait pola rilis dan pembagian pendapatan.

Perubahan lain yang terjadi bersamaan dengan internet adalah terbukanya akses distribusi. Jika sebelumnya merilis album umumnya membutuhkan dukungan label besar, kemunculan platform distribusi independen—seperti CD Baby pada 1998—membuat proses rilis musik jauh lebih mudah. Siapa pun kini dapat mengunggah lagu ke platform digital. Akibatnya, jumlah artis dan lagu yang dirilis setiap tahun meningkat tajam, dengan jutaan lagu baru hadir di layanan streaming setiap tahun.

Di sisi lain, perubahan teknologi turut membentuk perubahan perilaku pendengar. Pada era pembajakan digital, banyak orang terbiasa mengakses musik secara gratis. Kebiasaan itu kemudian memengaruhi persepsi kolektif tentang nilai musik—bahwa musik tidak lagi harus dibeli secara langsung. Streaming menjadi kompromi antara akses murah atau gratis dan kompensasi bagi artis, meski model ini disebut tidak sepenuhnya menggantikan besarnya pendapatan yang dulu berasal dari penjualan album fisik. Bahkan, disebutkan pula bahwa Spotify baru mencapai profitabilitas setelah bertahun-tahun beroperasi.

Dalam narasi publik, platform streaming kerap dituding sebagai penyebab utama turunnya pendapatan musisi. Namun, rangkaian peristiwa yang dipaparkan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Streaming muncul sebagai respons atas masalah yang terjadi lebih dulu, yakni pembajakan digital yang masif. Jika ditarik ke akarnya, perubahan industri musik tidak hanya merupakan hasil keputusan perusahaan teknologi, tetapi juga dipengaruhi perilaku kolektif pendengar pada era internet ketika pilihan “gratis” tersedia luas.

Dengan demikian, nostalgia terhadap “album yang lebih lengkap” di era 1990-an tidak semata soal talenta, melainkan juga soal ekosistem bisnis yang berbeda. Ketika pendengar dulu harus membayar di awal untuk sebuah album, standar “layak beli” ikut membentuk cara musik diproduksi. Sementara di era streaming, mekanisme pendapatan dan pola konsumsi mendorong strategi rilis yang berbeda—dan itu mengubah wajah industri musik hingga hari ini.