BERITA TERKINI
Produser Prediksi Billboard Akan Punya Tangga Lagu Khusus Musik Berbasis AI

Produser Prediksi Billboard Akan Punya Tangga Lagu Khusus Musik Berbasis AI

Perkembangan musik berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai berpotensi melahirkan kategori baru yang berdiri sendiri di industri musik, lengkap dengan basis penggemar dan pasar tersendiri. Seiring suara sintetis kian banyak muncul di platform streaming, wacana mengenai tangga lagu khusus untuk karya berbasis AI pun mengemuka.

Pandangan itu disampaikan Paul Fechter, produser musik sekaligus pendiri platform suara AI Vocs AI. Ia menilai gangguan terbesar bagi industri bukan semata hadirnya suara sintetis, melainkan ketidakmampuan sistem lama untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Fechter memprediksi dalam satu hingga dua tahun ke depan Billboard berpeluang menghadirkan tangga lagu khusus AI. Menurutnya, karya-karya berbasis AI akan mulai dilacak dan dimonetisasi, serta perlahan menarik audiens yang mencari pengalaman baru. Ia menegaskan AI tidak akan mengambil alih seluruh industri, tetapi berkembang sebagai sub-genre tersendiri, sebagaimana hip-hop atau EDM pada masa awal kemunculannya.

Ia juga menyinggung fenomena seperti Hatsune Miku sebagai gambaran arah perkembangan tersebut. Bagi Fechter, masa depan bukan soal menggantikan musisi manusia, melainkan melahirkan tipe artis baru yang hidup di ruang digital.

Meski demikian, Fechter menekankan pentingnya pelabelan yang jelas untuk karya berbasis AI. Ia menilai hal itu bukan hanya menyangkut aspek hukum, tetapi juga kedekatan emosional pendengar. Menurutnya, audiens ingin mengetahui siapa yang mereka dengarkan dan tetap membutuhkan ikatan, sekalipun sosoknya sepenuhnya berbasis AI.

Di sisi lain, Fechter menilai fondasi industri musik saat ini masih bermasalah, terutama pada sistem publishing dan pengumpulan royalti. Ia menyebutnya sebagai kekacauan yang belum terselesaikan sejak lama.

Ia mencontohkan pengalamannya sendiri: salah satu lagunya pernah diputar lebih dari 300 kali di sebuah stasiun televisi besar, namun tidak pernah tercatat dalam laporan royalti resmi. Fechter baru mengetahui penggunaan tersebut melalui perangkat lunak pelacak pihak ketiga. “Saya tidak dibayar sama sekali. Di mana transparansinya?” ujarnya.

Menurut Fechter, persoalan ini tidak hanya terkait AI, melainkan juga sistem kredit dan distribusi yang dinilainya subjektif dan tidak rapi. Kehadiran AI, kata dia, hanya mempercepat persoalan lama yang sudah ada.

Dalam perdebatan etika AI yang kian menguat, Fechter menilai isu utama tetap pada infrastruktur: bagaimana penggunaan komersial dilacak setelah lagu keluar dari platform asalnya. Ia mempertanyakan cara memastikan pembagian royalti berbasis pemakaian jika sistem yang ada masih kesulitan mencatat penempatan tradisional seperti tayangan televisi atau radio.

Fechter menyebut sistem ideal akan mengharuskan setiap pengguna mengirimkan dokumen pembagian hak cipta ke lembaga kolektif. Namun, ia meragukan apakah hal itu realistis. Tanpa mekanisme pelacakan yang kuat, kompensasi yang adil, menurutnya, berisiko hanya menjadi wacana.

Ia juga menyinggung gugatan-gugatan besar yang melibatkan perusahaan AI dan label rekaman sebagai gejala masalah yang lebih dalam. Perdebatan tentang izin dan lisensi memang penting, tetapi tanpa pelacakan yang presisi, ia menilai akan sulit memastikan siapa menggunakan apa, di mana, dan untuk tujuan apa.

Meski mengkritik infrastruktur industri, Fechter melihat AI sebagai alat praktis dalam proses kreatif. Ia menilai teknologi ini bukan mesin pembuat lagu instan, melainkan solusi efisien untuk tahap pembuatan demo. Fechter mengatakan pada tahun lalu ia dan rekan penulisnya menggarap sekitar 200 konsep lagu lintas genre, dari Afrobeats hingga country. Dalam situasi tersebut, mencari penyanyi studio berkualitas untuk setiap demo dengan tarif ratusan dolar per jam dinilainya bukan perkara ringan.

Melalui Vocs AI, ia mengaku dapat menghasilkan demo yang terdengar matang untuk kebutuhan pitching. Jika sebuah lagu mendapat lampu hijau, barulah penyanyi manusia direkrut untuk merekam versi final. Menurutnya, skema ini membantu memangkas biaya tanpa mengorbankan kualitas pada tahap presentasi.

Fechter membandingkan peran AI saat ini dengan kemunculan VST di era sebelumnya. Jika instrumen virtual dulu mengubah cara produser bekerja, ia meyakini AI akan terintegrasi langsung dalam alur produksi sehari-hari. Ia bahkan menyebut ada perusahaan teknologi yang sedang mengembangkan digital audio workstation baru dengan integrasi AI penuh, yang ia anggap sebagai evolusi berikutnya setelah gelombang VST.

Di tengah pro dan kontra, Fechter menilai perubahan sudah berlangsung. Menurutnya, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan hadir di ruang rekaman, melainkan seberapa cepat industri bersedia merapikan sistemnya agar tidak tertinggal oleh teknologi yang bergerak lebih lincah.