DENPASAR—Istri Gubernur Bali, Ni Putu Putri Suastini Koster, mengapresiasi pementasan teater Bali modern berjudul Jaratkaru: Lampan lan Utang sane Mekutang yang dipersembahkan Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali. Pertunjukan tersebut digelar dalam rangkaian perayaan Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali (Art Centre Denpasar), Senin (23/2/2026) malam.
Seusai menyaksikan pertunjukan, Putri Koster menilai garapan teater itu menunjukkan perpaduan idealisme, kemampuan teknis, serta pemahaman teori seni pertunjukan yang matang dari para pemain muda. Ia menyebut konsep pertunjukan tersaji jelas dan kemampuan para pemain dinilai menonjol. Penilaian itu disampaikan Putri Koster saat didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana.
Putri Koster, yang mengaku berkecimpung di dunia teater sejak akhir 1970-an, juga menyoroti kualitas olah tubuh dan olah vokal para aktor. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki peluang belajar lebih luas seiring perkembangan teknologi digital, sehingga akses untuk memahami teori dan memperkaya referensi semakin terbuka, dengan catatan kemauan berlatih tetap menjadi kunci.
Meski memberikan penilaian tinggi, Putri Koster menyampaikan catatan terkait harmonisasi antara dialog pemain dan iringan gamelan. Ia menekankan pentingnya keseimbangan volume musik dan vokal agar pesan pertunjukan dapat diterima penonton secara utuh. Putri Koster menyebut nilainya “9,9”, dengan catatan “0,1” pada aspek harmonisasi vokal dan musik, seraya menegaskan semangat gamelan tetap dapat kuat namun perlu memberi ruang bagi dialog.
Ia mencontohkan pengalaman pribadinya sebagai narator yang kerap menghadapi tantangan ketika iringan musik terlalu dominan hingga menutupi suara pemain.
Selain aspek teknis, Putri Koster juga menekankan etika dalam kebebasan berekspresi di atas panggung. Menurutnya, seni memiliki ruang kritik sosial yang luas, namun penyampaiannya perlu tetap santun dan berbudaya. Ia menyatakan kritik dapat disampaikan secara tajam tanpa harus menyakiti.
Putri Koster turut mendorong komunitas seni, termasuk Kawiya Bali, untuk terus berkarya tanpa menunggu momentum festival atau agenda tertentu. Ia berharap ruang pertunjukan terus dihidupkan melalui koordinasi dengan Taman Budaya agar ekosistem seni tetap berkembang.
Sementara itu, sutradara Agus Wiratama menjelaskan bahwa Jaratkaru menghadirkan tafsir baru terhadap mitologi Bali dengan pendekatan yang lebih dekat pada realitas generasi masa kini. Ia menyebut garapan tersebut memadukan tradisi dengan respons atas problematika kekinian, dengan harapan penonton tidak hanya memahami cerita, tetapi turut mengalami peristiwa di dalamnya.
Pertunjukan ini berangkat dari ingatan personal, mitologi Bali, serta pengalaman keseharian generasi muda urban. Figur Jaratkaru dihadirkan sebagai metafora tentang konsep “utang”, yang tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban genealogis kepada leluhur, tetapi juga tanggung jawab sosial manusia modern, mulai dari keluarga, pekerjaan, hingga rutinitas hidup sehari-hari.
Pementasan tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan teater Bali modern yang tetap berakar pada tradisi sekaligus relevan dengan dinamika masyarakat masa kini.

