Musisi sekaligus penulis lagu Rieka Roslan menilai peringatan Hari Musik Nasional perlu menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola industri musik Indonesia, terutama dalam hal kesejahteraan pencipta lagu dan perlindungan hak cipta. Ia menyoroti persoalan royalti yang menurutnya masih menjadi perjuangan berat bagi banyak musisi.
Dalam pernyataannya saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (9/3/2026), Rieka menekankan bahwa penghormatan terhadap karya seni tidak cukup berhenti pada apresiasi verbal, melainkan harus menyentuh aspek ekonomi yang adil. Ia menilai upaya penulis lagu memperjuangkan hak kerap disalahpahami.
“Jangan mikir bahwa pencipta itu harus menjadi seni. Berarti kalau gitu Anda juga boleh makan di restoran tanpa bayar. Kenapa saat penulis lagu sekarang bergerak untuk mendapatkan haknya, semua dinilai seperti kita mata duitan? Padahal sedang mengupayakan untuk mendukung keberlangsungan. Musik adalah hiburan, tapi jangan sampai yang bikin tidak terhibur,” ujar Rieka.
Ia mengatakan tata kelola musik Indonesia perlu segera dibenahi agar para pencipta memperoleh hak yang layak atas karya yang mereka hasilkan. Rieka juga menyinggung kondisi sejumlah penulis lagu generasi terdahulu yang disebutnya hidup dalam kesulitan pada masa tua akibat sistem royalti yang tidak berjalan semestinya.
“Saya mempunyai data banyak sekali penulis lagu dulu-dulu yang kehidupannya sakitnya enggak bisa berobat, meninggal dalam kondisi tidak tertolong karena memang kurang biaya. Jangan diulangi dong,” tegasnya.
Menurut Rieka, kondisi industri yang belum berpihak pada pencipta lagu mulai berdampak pada produktivitas seniman. Ia mengaku sempat kehilangan gairah menulis lagu baru setelah melihat hasil royalti yang diterimanya tidak sebanding dengan proses kreatif yang dijalani selama puluhan tahun berkarier.
“Jujur, setelah saya 30 tahun ini dan saya menyimak hasil royalti yang saya dapatkan, saya jadi malas nulis lagu seperti itu. Karena untuk apa menulis kalau akhirnya seperti ini?” ucapnya.
Melalui momentum Hari Musik Nasional, Rieka berharap sinergi pemerintah, khususnya melalui Kementerian Kebudayaan, dengan para pelaku industri dapat diperkuat. Menurutnya, musik sebagai aset budaya dan ekonomi seharusnya juga mampu menghidupi para penciptanya.
“Musik adalah hiburan, tapi yang bikinnya tidak terhibur. Harapan saya, penciptanya juga harus sejahtera, semuanya harus sejahtera,” katanya.
Terkait langkah pemerintah mendorong musik dangdut agar diakui UNESCO, Rieka menyatakan dukungan. Ia menyamakan posisi musik dengan aset budaya lain seperti batik dan kebaya yang dinilai perlu dikukuhkan identitasnya sebagai milik Indonesia. Namun, ia juga menekankan pentingnya memastikan para pelaku budayanya turut terlindungi kesejahteraannya.
“Satu yang tidak akan habis aset Indonesia adalah budaya. Karena budaya itu walaupun bisa diduplikasi, jiwanya kan enggak bisa. Ini adalah aset negara yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia yang harus dijagain. Tapi manusianya ini harus dijagain juga agar sejahtera,” ujar Rieka.
Dalam kesempatan yang sama, Rieka turut menyampaikan pengamatannya mengenai tren musik Indonesia yang menurutnya kembali mengambil esensi era 1980-an dan 1990-an. Ia memandang musik sebagai estafet yang terus berputar mengikuti zaman, namun kerap kembali bertemu pada titik kualitas lirik dan rasa.
“Musik itu menurut aku berputar terus dan kembali ke titik dahulu lah. Musik mengambil lagi esensial tahun 80-90 sekarang ini ya. Musik itu adalah estafet, tinggal giliran aja sekarang siapa yang lagi di atas, siapa sekarang yang lagi mampu mencetak hits. Tapi itu pengulangan kok, genre musiknya pun, penyanyinya pun, pengulangan semuanya,” ungkapnya.
Rieka juga membandingkan kondisi musisi muda di era digital dengan masa awal ia merintis karier ketika distribusi musik masih bergantung pada pita rekaman, kaset, atau CD. Menurutnya, teknologi saat ini memberi ruang luas bagi kreativitas tanpa harus sepenuhnya bergantung pada label besar.
“Anak-anak sekarang sih lebih mujur, lebih mudah. Kalau dulu kan harus dalam bentuk kaset atau CD. Sekarang tinggal jempol bermain, musik jadi. Dulu TV menuntut kita mengeluarkan yang industri mau, label juga seperti itu. Kalau sekarang bisa YouTube naikin sendiri, digital tinggal daftar sendiri, bikin video juga mudah pakai handphone,” pungkasnya.

