BERITA TERKINI
RRI Gelar Konser Amal Ramadan, Himpun Donasi Rp72,6 Juta dan Wakaf 200 Mushaf

RRI Gelar Konser Amal Ramadan, Himpun Donasi Rp72,6 Juta dan Wakaf 200 Mushaf

Sejumlah musisi Tanah Air tampil dalam konser amal bernuansa religi di Auditorium Abdurahman Saleh, RRI, Jakarta, Senin, 23 Februari 2026. Di antara pengisi acara adalah Ita Purnamasari, Badai, Rey Jonih, Suci Pratiwi, Papinka, hingga Caffeine.

Ita Purnamasari membawakan lagu “Dengan Menyebut Nama Allah” yang pertama kali dipopulerkan Novia Kolopaking pada 1992. Ia juga menyanyikan “Tiada yang Melebihi” ciptaan Dwiki Dharmawan yang disebutnya diniatkan untuk disedekahkan dalam konser tersebut.

“Mas Dwiki titip salam, tidak bisa hadir di sini, namun lagu ‘Tiada yang Melebihi’ untuk disedekahkan ke acara ini,” ujar Ita saat berdialog dengan pembawa acara usai menyanyikan lagu.

Konser amal Ramadan ini mengusung tema “Harmoni Negeri untuk Berbagi” dan ditujukan untuk menghimpun donasi bagi anak yatim, kaum duafa, serta masyarakat terdampak bencana. Dalam pelaksanaannya, RRI menggandeng Nada Bumi serta Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK).

LPOI disebut beranggotakan sejumlah organisasi Islam, seperti Nahdlatul Ulama, Syarikat Islam, dan Persis. Sementara LPOK menghadirkan perwakilan agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu.

Selama konser yang berlangsung lebih dari dua jam, terkumpul donasi sebesar Rp72.688.000 serta wakaf 200 mushaf Al-Qur’an. Informasi tersebut diumumkan oleh band Caffeine sebagai penampil terakhir. RRI juga menggandeng Yayasan Muse Amal Bakti sebagai mitra penyaluran donasi.

Direktur Utama RRI, Hendrasmo, menyampaikan bahwa konser amal dan sedekah musik ini merupakan bagian dari mandat lembaga penyiaran publik. Menurutnya, momentum Ramadan memperkuat ajakan membangun solidaritas sosial melalui jejaring yang dimiliki RRI.

“Kita ini kan sebetulnya media yang senantiasa melakukan [kegiatan seperti ini, yaitu] gerakan sosial. Hari ini kita bicara tentang bagaimana membangun solidaritas sosial, kesetiakawanan. Harmoni Negeri untuk Berbagi,” kata Hendrasmo.

CEO Nada Bumi, Rio Zelly Rinaldo, menjelaskan konser tersebut menjadi ruang kolaborasi antara musisi dan pengelola hak cipta untuk menyalurkan royalti sebagai bentuk sedekah. Ia mengatakan sistem royalti yang berjalan di Nada Bumi memungkinkan pendapatan lagu dialihkan untuk kepentingan sosial.

Menurut Rio, gagasan itu muncul dari keprihatinan atas berbagai bencana yang terjadi belakangan ini. Sejumlah lagu produksi Nada Bumi, termasuk yang dibawakan talenta mereka, diniatkan untuk disedekahkan melalui mekanisme penyaluran yang disebut tersistem dan transparan.

“Ketika itu masuk ke dalam sistem kami di Nada Bumi, ketika niatnya untuk disedekahkan, maka hasil royaltinya saya akan kirim ke Yayasan Muse. Dari yayasan itu yang nanti akan bergerak atau ditujukan ke yang membutuhkan seperti bencana alam dan lain-lain,” ujar Rio.

Dalam rangkaian acara, RRI turut mengundang mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj. Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqafah ini menyampaikan tausyiah atau kuliah tujuh menit menjelang waktu berbuka puasa.

Said memaknai konser tersebut sebagai bagian dari upaya membangun kesalehan sosial di tengah masyarakat majemuk. Ia mengutip pandangan ulama klasik abad ke-8 Masehi, Dzun-Nun al-Mishri.

“Musik itu suara kebenaran yang bisa membawa kita menuju yang Maha Benar. Kalau kita mendengarkan musik dengan betul-betul ingin mencapai sesuatu yang baik, maka kita akan bisa mengenal hakikat,” kata Said. Ia juga disebut menyumbangkan royalti dari rekaman kreatif shalawat Hifzul Bilad.

Konser ini menegaskan bahwa sedekah tidak terbatas pada materi. Melalui karya seni, musik dapat dioptimalkan sebagai medium untuk berbagi manfaat yang lebih luas, termasuk lewat kolaborasi antara musisi, lembaga penyiaran, dan organisasi keagamaan.