BERITA TERKINI
Syair Smong, Warisan Tutur Simeulue yang Menyelamatkan Warga dari Tsunami Aceh 2004

Syair Smong, Warisan Tutur Simeulue yang Menyelamatkan Warga dari Tsunami Aceh 2004

Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 dikenang sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Gempa besar memicu gelombang laut yang menerjang wilayah pesisir, meruntuhkan bangunan, dan menimbulkan kerugian luas. Jumlah korban jiwa disebut mencapai sekitar 220 ribu orang, membuat duka tak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga memantik solidaritas dunia.

Di tengah skala bencana yang masif, satu wilayah di Aceh kerap disorot karena angka korban yang sangat rendah: Kabupaten Simeulue. Dari sekitar 78 ribu penduduk, hanya tujuh orang dilaporkan meninggal dunia. Warga setempat dinilai sigap menyelamatkan diri segera setelah gempa kuat terjadi, tanpa menunggu peringatan resmi.

Dalam situasi ketika kemampuan peringatan dini dan pengetahuan masyarakat tentang ciri-ciri tsunami tidak merata, banyak orang di wilayah lain tidak melakukan tindakan cepat. Akibatnya, ketika gelombang besar datang—disebut setinggi hampir 30 meter di sejumlah tempat—dampaknya menjadi fatal. Kondisi ini juga mendorong datangnya bantuan kemanusiaan dari dalam dan luar negeri, serta relawan yang membantu evakuasi dan penanganan korban.

Reza Idria, dalam tulisan di majalah Tempo berjudul Aceh yang Asing dan Jauh (2014), menggambarkan bagaimana ingatan atas bencana itu selalu kembali setiap 26 Desember: tentang skala gempa, tinggi gelombang, dan kematian masif setelahnya, di tengah suasana reruntuhan, genangan, gempa susulan, hingga deru helikopter, ambulans, dan truk pengangkut jenazah. Ia menyebut tsunami 2004 ditahbiskan sebagai bencana internasional.

Namun, bagi masyarakat Simeulue, keselamatan massal pada 2004 bukan semata soal keberuntungan. Warga disebut bertindak berdasarkan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun melalui seni tutur bernama Syair Smong. Dalam bahasa lokal, “smong” merujuk pada tsunami.

Syair Smong merupakan sastra klasik khas Simeulue yang berisi petuah dan panduan mitigasi bencana tsunami. Ia disampaikan lewat nyanyian dan dongeng yang terus diulang dari generasi ke generasi. Pesannya sederhana namun tegas: ketika gempa kuat terjadi dan air laut surut, warga diminta segera mencari tempat yang lebih tinggi.

Menurut laporan majalah Tempo berjudul Berkeliling dengan Syair Smong (2014), seorang warga bernama Nurliani mengingat bait yang kerap ia dengar: “Anga linon ne mali, uwek suruik sahuli, maheya mihawali fano me singa tenggi, ede smong kahanne.” Artinya: “Jika gempanya kuat, disusul air yang surut, segeralah cari tempat kalian yang lebih tinggi, itulah smong namanya.”

Syair ini tidak muncul tanpa latar. Disebutkan bahwa Simeulue pernah dihantam tsunami pada 1907, pada masa Hindia Belanda, yang menelan banyak korban. Para penyintas saat itu berupaya agar tragedi serupa tidak terulang, salah satunya dengan melestarikan Smong sebagai pengingat kolektif dan pedoman tindakan.

Dalam konteks tsunami 2004, warisan tutur tersebut menjadi pengetahuan praktis yang membuat warga Simeulue tidak menunggu instruksi pemerintah. Begitu tanda-tanda dikenali, mereka segera membawa keluarga menuju dataran tinggi. Syair Smong pun dikenang sebagai salah satu contoh bagaimana pengetahuan lokal dapat berperan penting dalam keselamatan saat bencana terjadi.