BERITA TERKINI
Temu Penulis di Yogyakarta: Akademisi dan Editor Bahas Cara Menjembatani Riset ke Publik

Temu Penulis di Yogyakarta: Akademisi dan Editor Bahas Cara Menjembatani Riset ke Publik

Sejumlah akademisi berkumpul dalam acara Temu Penulis di sebuah toko buku di Kecamatan Ngemplak, Yogyakarta, untuk mendiskusikan upaya merawat pengetahuan bersama melalui kolaborasi penulisan dengan The Conversation Indonesia (TCID). Pertemuan yang berlangsung di lantai dua Solusi Buku itu menjadi ruang dialog tentang bagaimana riset dan gagasan akademik dapat disampaikan dalam bentuk tulisan populer yang mudah dipahami masyarakat.

Temu Penulis di Yogyakarta disebut sebagai kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Jakarta. Yogyakarta dipilih sebagai lokasi berikutnya, dengan pertimbangan posisinya sebagai kota pendidikan yang lekat dengan tradisi diskusi dan pertukaran gagasan.

Dalam sesi diskusi, Hayu Rahmitasari selaku Editor Pendidikan & Budaya TCID dan Anggi M. Lubis selaku Editor in Chief TCID menjelaskan proses kerja editorial dalam menerjemahkan penelitian menjadi artikel dan konten populer. Mereka menekankan bahwa pekerjaan tersebut tidak selalu mudah, namun diperlukan sebagai jembatan agar pengetahuan dapat dimanfaatkan khalayak luas.

Pembahasan kemudian berlanjut pada tantangan yang dihadapi akademisi ketika menulis untuk pembaca umum. Masthuriyah, mahasiswa doktoral Filsafat Universitas Gadjah Mada, menceritakan pengalamannya menulis artikel pertama di TCID yang melalui proses revisi panjang hingga sempat membuatnya ragu.

“Tiga hari kemudian dikasih feedback. Ini kok berat sekali. Sampai saya bilang ke mas editor, ‘Kalau tulisan saya nggak bagus, di- cancel saja.’ Tapi mas-nya bilang akan diperbaiki tata bahasanya,” ujarnya.

Masthuriyah menyebut artikelnya baru terbit setelah tiga kali revisi. Namun, ia menilai proses tersebut terbayar ketika tulisannya mendapat apresiasi, termasuk pujian dari wartawan media besar.

Pengalaman itu menggarisbawahi bahwa kolaborasi antara akademisi dan tim editorial merupakan proses saling belajar. Akademisi dituntut menyesuaikan gaya penulisan agar gagasannya lebih mudah dipahami publik, sementara editor perlu memahami beragam penelitian baru yang dinilai penting untuk disampaikan.

Seiring diskusi berlangsung, para peserta turut membicarakan alasan pentingnya sains dan pengetahuan dibawa lebih dekat kepada masyarakat. Mereka menilai penelitian tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen akademik yang hanya tersimpan di repository atau perpustakaan kampus, melainkan perlu dihadirkan agar memberi manfaat yang lebih luas.

Salah satu peserta, Nurizky Adhi Hutama, dosen Universitas Pertiwi, menyampaikan harapannya agar TCID dapat menjadi pendamping bagi akademisi dan peneliti. “Harapan untuk TCID, semoga bisa menjadi pendamping para akademisi dan peneliti, supaya kita semua—dan bangsa ini—bisa semakin berkembang dan semakin cerdas,” katanya.

Pertemuan itu ditutup dengan keyakinan bahwa upaya merawat pengetahuan dapat dilakukan melalui kerja bersama. Para peserta menilai, ketika akademisi, penulis, dan media berjalan beriringan, pengetahuan memiliki peluang lebih besar untuk menemukan jalannya menuju masyarakat.