Tradisi seni Cowongan turut mewarnai gelaran Sokaraja Night Art Festival 2025 yang berlangsung pada Sabtu (27/12/2025). Kesenian yang berakar dari kearifan lokal petani ini ditampilkan sebagai warisan budaya leluhur yang memuat makna filosofis, sekaligus pengingat relasi manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Seniman Cowongan asal Banyumas, Titut Edi Purwanto, menjelaskan bahwa Cowongan lahir dari kecerdasan spiritual para petani dalam membaca peristiwa alam, terutama saat kemarau panjang. Pada mulanya, ritual ini diciptakan sebagai doa untuk memohon hujan kepada Tuhan demi keselamatan hidup masyarakat.
“Cowongan itu murni karya seni petani. Dulu lahir karena kemarau panjang. Tempurung kelapa yang mengandung air dijadikan media ritual untuk memohon hujan kepada Tuhan,” ujar Titut.
Menurut Titut, pelestarian tradisi Cowongan ditujukan untuk menjaga keselamatan generasi penerus agar terhindar dari bencana dan dapat melanjutkan kehidupan dengan baik. Seiring waktu, ritual tersebut berkembang menjadi seni pertunjukan tanpa menghilangkan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Titut mengaku mulai mengenal tradisi Cowongan sejak 2005 dan kemudian tertarik mengembangkannya menjadi pertunjukan teater. Ia menekankan bahwa doa-doa dalam tradisi Cowongan bukanlah ritual mistis, melainkan memuat pesan cinta dan kasih sayang antar manusia, hubungan manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.
Keikutsertaannya dalam Sokaraja Night Art Festival, kata Titut, dilandasi semangat meneruskan karya leluhur kepada generasi muda. Ia berharap masyarakat Banyumas, khususnya anak muda, semakin bangga terhadap warisan budaya daerah serta menjaga alam sebagai sumber kehidupan.

