BERITA TERKINI
Tren Wellness dan Healthy Aging: Upaya Menjaga Masa Hidup Sehat Sejak Dini

Tren Wellness dan Healthy Aging: Upaya Menjaga Masa Hidup Sehat Sejak Dini

Ritme hidup urban yang serba cepat membuat isu wellness kian menonjol dalam keseharian banyak perempuan. Aktivitas seperti pilates sepulang kerja, mindful eating, hingga kebiasaan tidur cukup perlahan menggeser cara pandang lama bahwa kesehatan hanya menjadi perhatian saat penyakit datang.

Menurut Dr. Tanupol Virunhagarun, Chief Executive Officer BDMS Wellness Clinic dan BDMS Wellness Resort di Thailand, perubahan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran untuk menjaga kualitas hidup sejak dini. Ia menilai, perhatian terhadap wellness bukan semata soal penampilan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang. BDMS sendiri merupakan jejaring operator rumah sakit swasta di Thailand yang menekankan pencegahan melalui deteksi dini dan upaya pencegahan penyakit.

Menyelaraskan life span dan health span

Dr. Tanupol menyoroti perubahan besar di Asia, yakni meningkatnya populasi yang menua. Namun, ia mengingatkan bahwa usia panjang tidak selalu sejalan dengan kondisi tubuh yang tetap sehat. “Orang-orang bisa hidup lebih lama saat ini dibanding dulu, karena obat-obatan masa kini itu lebih baik, tetapi masalahnya banyak orang tidak menjalani hidup dengan lebih sehat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rata-rata lifespan atau harapan hidup global berada di angka 73 tahun, sementara health span atau masa hidup sehat sekitar 63 tahun. Di Indonesia, selisihnya disebut lebih jauh: harapan hidup berada di angka 71 tahun, sedangkan health span diperkirakan sekitar 53 tahun. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat wellness semakin relevan karena banyak perempuan tidak hanya ingin hidup lebih lama, tetapi juga tetap aktif, mandiri, dan menikmati hidup di usia lanjut. “Tujuannya adalah menyamakan angka masa hidup sehat dan harapan hidup,” katanya.

Wellness bergeser: dimulai sejak usia muda

Dr. Tanupol juga melihat pergeseran cara masyarakat memandang wellness. Jika dahulu konsep ini kerap dikaitkan dengan kelompok usia matang atau kalangan tertentu, kini generasi muda mulai memberi perhatian pada pencegahan. “Wellness itu bukan hanya untuk ‘orang berumur’, tetapi juga untuk orang-orang yang lebih muda,” ujarnya.

Ia menyebut pandemi COVID-19 sebagai salah satu titik balik yang mendorong kesadaran terhadap bahaya penyakit tidak menular (non-communicable disease/NCD), seperti diabetes, penyakit jantung, obesitas, hingga kanker—yang menurutnya berkaitan erat dengan pola hidup sehari-hari. Ia juga menyampaikan bahwa sekitar 90 persen NCD sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan kebiasaan wellness.

Dalam praktiknya, pasien wellness kini datang dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak yang ingin memahami kebutuhan nutrisi hingga perempuan dewasa yang mempersiapkan kesehatan fertilitas dan menghadapi masa premenopause. Ia menekankan pentingnya memulai lebih awal. “Semakin awal Anda memulai kebiasaan yang baik untuk kesehatan menyeluruh, semakin baik,” katanya.

Fondasi kebiasaan: menjaga proporsi tubuh dan rutinitas harian

Di tengah tren wellness, Dr. Tanupol menilai fondasi kesehatan tetap bertumpu pada kebiasaan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya menjaga proporsi tubuh tetap ideal, bukan semata mengejar bentuk tubuh tertentu. “Don’t get fat,” ujarnya.

Ia menyarankan tidur delapan jam sebelum pukul 10 malam untuk mengejar kualitas deep sleep. Selain itu, olahraga minimal 30 menit setiap hari, membatasi konsumsi makanan tinggi gula dan ultra processed food seperti minuman manis, serta memperbanyak sayuran untuk menjaga keseimbangan bakteri baik di usus yang dinilai berpengaruh pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Menurutnya, kebiasaan wellness sebaiknya realistis dan dapat diterapkan bertahap dalam rutinitas harian.

Kesehatan mental sebagai bagian dari wellness modern

Selain fisik, aspek mental dan emosional disebut semakin penting dalam wellness modern. “Faktor kunci dalam menjalani gaya hidup wellness adalah kesehatan mental,” kata Dr. Tanupol. Ia menilai, banyak orang datang untuk memperbaiki kondisi tubuh, tetapi pada akhirnya juga membutuhkan pemulihan emosional akibat stres dan tekanan hidup.

Karena itu, aktivitas seperti yoga dan tai chi kerap direkomendasikan. Ia juga mengaitkan wellness dengan kesehatan spiritual, yakni kondisi ketika seseorang merasa lebih tenang dan mampu mengelola emosi dengan baik. Relasi sosial yang positif pun dinilai turut terbentuk. Hal-hal sederhana seperti tidur cukup, mengurangi stres, dan menjaga hubungan baik dengan orang sekitar disebut sebagai fondasi wellness yang paling mendasar.

Pada akhirnya, wellness tidak lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan cara perempuan modern menjaga kualitas hidup di tengah rutinitas yang dinamis. Dari pola makan hingga kesehatan mental, seluruhnya menjadi bagian dari upaya jangka panjang agar tubuh dan pikiran tetap sehat di setiap fase kehidupan.