BERITA TERKINI
Universitas BTH Tasikmalaya Buka S1 Rekayasa Kosmetika untuk Jawab Kebutuhan Industri Beauty dan Wellness

Universitas BTH Tasikmalaya Buka S1 Rekayasa Kosmetika untuk Jawab Kebutuhan Industri Beauty dan Wellness

KOTA TASIKMALAYA — Universitas Bakti Tunas Husada (BTH) Tasikmalaya resmi membuka Program Studi S1 Rekayasa Kosmetika di tengah pertumbuhan pesat industri kecantikan dan skincare. Kampus tersebut menyebut program ini sebagai yang pertama dan satu-satunya di lingkungan perguruan tinggi swasta di Indonesia.

Berbeda dari banyak perguruan tinggi yang masih berfokus pada program studi konvensional, Universitas BTH memilih mengembangkan pendidikan yang diarahkan pada sektor kecantikan modern. Bidang yang disasar mencakup beauty science, teknologi skincare, wellness, hingga inovasi kosmetik berbasis riset.

Tren penggunaan skincare serta meningkatnya jumlah merek kosmetik lokal dalam beberapa tahun terakhir turut mendorong pertumbuhan industri kecantikan nasional. Generasi muda pun dinilai tidak hanya menjadi konsumen, tetapi mulai membangun usaha skincare, kosmetik lokal, hingga startup berbasis beauty technology.

Rektor Universitas BTH, Prof. Dr. Ruswanto, mengatakan Program Studi Rekayasa Kosmetika disusun melalui Rencana Induk Pengembangan kampus untuk menjawab tantangan dunia kerja modern. Ia menyebut pembukaan program studi baru memerlukan proses panjang, baik dari sisi akademik maupun administrasi, termasuk pemenuhan kesiapan sumber daya manusia dan tenaga pengajar profesional.

“Program Studi Rekayasa Kosmetika ini lahir dari kebutuhan zaman. Industri kosmetik, skincare, wellness, dan beauty technology berkembang sangat pesat sehingga perguruan tinggi harus mampu menyiapkan SDM yang unggul dan inovatif,” ujar Ruswanto, Senin (11/5/2026).

Ruswanto menjelaskan, pengajuan program studi dilakukan sejak akhir Maret 2026 dan rekomendasi resmi diterbitkan pada 28 April 2026. Menurutnya, program ini tidak sekadar menjadi jurusan baru, tetapi bagian dari komitmen kampus menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan industri global.

“Kami ingin mahasiswa nantinya tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi inovator bahkan entrepreneur di bidang kosmetika modern,” katanya.

Ia juga menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan produk kecantikan berbasis bahan alami. Kekayaan hayati seperti rempah-rempah, minyak atsiri, aloe vera, kopi, teh hijau, hingga tanaman herbal tropis dinilai berpeluang dikembangkan menjadi produk kosmetik bernilai tinggi. Namun, potensi tersebut disebut belum dimanfaatkan secara maksimal melalui pendekatan riset dan industrialisasi modern.

Karena itu, Program Studi Rekayasa Kosmetika dirancang dengan pendekatan multidisiplin. Mahasiswa akan mempelajari teknologi kosmetik, kimia formulasi, riset bahan alami, beauty technology, digital marketing, hingga entrepreneurship. Selain keterampilan merancang produk skincare atau kosmetik, mahasiswa juga akan dibekali kemampuan membangun inovasi produk dan strategi pengembangan bisnis kecantikan modern.

Seiring berkembangnya industri beauty dan wellness, peluang kerja lulusan program ini diproyeksikan cukup luas, mulai dari beauty scientist, peneliti kosmetik, formulator skincare, quality control kosmetik, product development specialist, hingga pelaku usaha di bidang kecantikan. Universitas BTH juga menilai perkembangan media sosial dan platform digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk membangun merek skincare sendiri.

Untuk mendukung akses pendidikan, Yayasan BTH menyediakan Program Beasiswa BTH Unggul bagi calon mahasiswa berprestasi. Khusus Program Studi Rekayasa Kosmetika, tersedia lima kuota kuliah gratis bagi calon mahasiswa dengan prestasi unggul.

“Melalui beasiswa ini kami berharap muncul talenta-talenta muda yang mampu membawa inovasi kosmetik Indonesia hingga ke tingkat internasional,” ucap Ruswanto.

Kehadiran Program Studi Rekayasa Kosmetika juga disebut menjadi penanda bahwa inovasi pendidikan tidak hanya lahir di kota besar. Dari Tasikmalaya, Universitas BTH berupaya membangun ekosistem berbasis riset kosmetik, pengembangan bahan alami, dan teknologi kecantikan modern.

Langkah tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku UMKM kosmetik, industri herbal, hingga sektor kesehatan di daerah. Jika berkembang secara konsisten, Tasikmalaya dinilai berpeluang menjadi salah satu pusat pengembangan beauty science dan wellness industry di Indonesia.