Grup band Wali belakangan kembali menjadi sorotan di industri musik Indonesia setelah mendapat sambutan besar dari pendengar Generasi Z. Fenomena ini dinilai menarik karena sebelumnya sejumlah pengamat meragukan relevansi lagu-lagu Wali di tengah tren musik era modern.
Dalam beberapa penampilan di festival musik kekinian, Wali disebut kerap menarik ribuan penonton muda yang memadati area konser. Lagu-lagu mereka dianggap memiliki irama yang mudah dinikmati dan mengundang penonton untuk berjoget, sehingga suasana panggung ikut terdorong menjadi lebih meriah.
Antusiasme Gen Z tidak hanya terlihat dari keramaian konser, tetapi juga dari kemampuan mereka menghafal lirik lagu-lagu lama Wali. Sejumlah hits seperti Cari Jodoh hingga Nenekku Pahlawanku kembali dinyanyikan bersama oleh penonton, menunjukkan bagaimana karya musik dapat melintasi batas usia pendengarnya.
Wali sendiri merupakan band asal Ciputat yang terbentuk sejak 1999. Faank dan rekan-rekannya dikenal lewat warna Melayu pop yang khas. Popularitas tersebut juga tercermin di platform digital, ketika beberapa karya lama mereka kembali ramai diputar. Salah satu contohnya, lagu Yank yang disebut telah menembus 56 juta stream di Spotify.
Di tengah meningkatnya perhatian penggemar muda, muncul pula permintaan agar manajemen Wali merilis lightstick resmi seperti atribut konser K-Pop. Di sisi lain, Wali juga tetap konsisten merilis karya religi setiap Ramadan. Tahun ini, mereka meluncurkan lagu Romantika Badar dan Uhud.
Menariknya, lagu-lagu religi Wali disebut mampu menyatukan penonton dari berbagai kalangan. Dalam sejumlah penampilan, penonton non-muslim pun ikut bernyanyi bersama di area konser. Situasi tersebut turut memperkuat citra Wali sebagai band yang digemari lintas generasi dan dinilai mampu merangkul beragam latar belakang pendengar.

