Tren “wisata musik” kian menguat dan dinilai para ahli berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi pada 2026. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya paket perjalanan bertema “pengalaman wisata musik”, yang menggabungkan konser dengan akomodasi, transportasi, hingga aktivitas wisata di destinasi tujuan.
Belakangan, pertanyaan di kalangan anak muda bergeser dari “ke mana kita berlibur?” menjadi “ke mana kita menonton konser?”. Setelah menentukan jadwal pertunjukan, calon penonton biasanya melanjutkan dengan berburu tiket, mencari opsi harga yang lebih terjangkau, serta memesan hotel yang dekat dengan lokasi acara.
Menjelang akhir 2025, misalnya, banyak penggemar merencanakan perjalanan untuk menghadiri konser langsung My Tam bertajuk “See the Light” yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Desember 2025 di Stadion My Dinh, Hanoi.
Jika sebelumnya perjalanan mengikuti idola lebih identik dengan konser bintang asing, kini pola serupa terjadi pada banyak artis domestik seiring berkembangnya pasar musik Vietnam dan meningkatnya jumlah konser live dengan standar yang disebut mendekati internasional. Dalam situasi ini, penggemar cenderung bersedia bepergian mengikuti lokasi pertunjukan idola mereka.
Selama setahun terakhir, penyanyi Ha Anh Tuan menggelar rangkaian konser “Sketch a Rose” di berbagai lokasi, mulai dari Ninh Binh, Durian Theatre di Singapura, Sydney Opera House di Australia, hingga Dolby Theatre di Los Angeles, Amerika Serikat, sebelum kembali ke Da Lat, Lam Dong dengan versi yang berbeda. Di berbagai kota tersebut, tiket pertunjukan dilaporkan habis terjual segera setelah penjualan dibuka.
Penonton “Sketch a Rose” disebut didominasi penggemar Vietnam yang datang sebagai “wisatawan musik”. Sejumlah pelaku industri musik menilai Ha Anh Tuan dikenal teliti dan cermat dalam penyelenggaraan konser sehingga penonton mendapatkan pengalaman yang kuat. Ia juga disebut sebagai penyanyi “bermerek” dengan standar pertunjukan yang tinggi; bahkan ketika penampilan di panggung tidak sepenuhnya sempurna, sebagian penggemar dinilai tidak terlalu mempermasalahkannya.
Arus wisata musik juga tidak hanya terpusat pada konser artis tertentu. Sejumlah program dan konser seperti “Saudara Bersapa”, “Saudara Mengatasi Seribu Duri”, “Gadis Cantik Bersapa”, dan “Wanita Cantik Menunggangi Angin” yang digelar di berbagai wilayah turut mendorong penonton melakukan “tur musik” mengikuti jadwal pertunjukan di banyak kota.
Di Kota Ho Chi Minh, misalnya, sebagian penonton memilih memesan hotel dekat lokasi konser untuk menghindari kemacetan dan keramaian, sekaligus menikmati rangkaian acara secara penuh, termasuk sesi latihan hingga hari pertunjukan. Selain tiket, wisatawan musik umumnya menyiapkan anggaran untuk makan, akomodasi, dan transportasi.
Di tingkat global, contoh yang kerap disebut adalah festival musik elektronik Tomorrowland di Belgia yang setiap musim panas menarik ratusan ribu pengunjung dari lebih dari 200 negara. Menurut penyelenggara dan otoritas setempat, banyak pengunjung tinggal selama beberapa hari dan membelanjakan uang untuk hotel, makanan, transportasi, serta wisata di kota-kota seperti Brussels dan Antwerp. Kondisi ini menunjukkan acara musik dapat menghasilkan nilai ekonomi yang melampaui penjualan tiket.
Model serupa juga terlihat di Asia. Di India, Udaipur tidak hanya dikenal dengan istana di tepi Danau Pichola, tetapi juga menjadi titik pertemuan pecinta musik lewat “Festival Musik Dunia Udaipur”. Festival beberapa hari itu memadukan musik tradisional Rajasthan dengan artis internasional, sekaligus menawarkan tur ke situs warisan budaya, kuliner, dan kerajinan tangan. Pengunjung datang untuk musik, namun bertahan karena pengalaman budaya.
Di Singapura, CEO Dewan Pariwisata Singapura Melissa Ow menyatakan pariwisata musik telah memberi kontribusi signifikan terhadap peningkatan jumlah wisatawan dan pendapatan pariwisata. Rangkaian konser bintang internasional dinilai menjadi daya tarik utama bagi pengunjung mancanegara.
Singapura juga baru-baru ini menjadi tuan rumah eksklusif delapan konser Taylor Swift di Asia Tenggara. Penyanyi asal Amerika Serikat itu menggelar enam pertunjukan di Stadion Nasional berkapasitas 55.000 penonton pada 2–9 Maret. Selama rangkaian konser tersebut, permintaan tiket penerbangan dilaporkan melonjak dan banyak hotel penuh dipesan.
Sejumlah ahli menilai gelombang konser di Singapura dapat mendorong pariwisata dan sektor terkait, seperti perhotelan, ekonomi kehidupan malam, serta makanan dan minuman. Selena Ling, Kepala Riset dan Strategi Perbendaharaan di OCBC Bank, menyebut pekerja di industri terkait pariwisata berpeluang merasakan dampak positif dari konser-konser tersebut.
Menurut laporan South China Morning Post, Kepala Eksekutif Hong Kong Li Jia Chao menyatakan kotanya menjadikan Singapura sebagai inspirasi dalam upaya menarik bintang internasional untuk menggelar konser. Srettha Thavisin, mantan Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Thailand, juga memuji keberhasilan Singapura dan menyebut konser di Thailand dapat menarik sponsor serta wisatawan.
Vietnam pun mengikuti tren ini. Dua konser BlackPink dalam rangka “Born Pink World Tour” di Hanoi pada 29 dan 30 Juli 2023 menarik 60.000–67.000 penonton, dengan pendapatan penjualan tiket lebih dari 333–335 miliar VND. Acara tersebut disebut sebagai pertunjukan musik dengan pendapatan tertinggi di Vietnam pada 2023.
Para ahli memperkirakan pada 2026, wisata musik akan melampaui sekadar transaksi tiket konser. Perusahaan perjalanan dan maskapai penerbangan disebut cepat meluncurkan paket “musik – relaksasi – pengalaman lokal”. Tiket konser kini dapat digabungkan dengan paket menginap 3 hari 2 malam, tur kota untuk mengunjungi situs bersejarah, wisata kuliner, hingga kegiatan keterlibatan komunitas.
Laporan pasar perjalanan internasional juga memproyeksikan wisata musik dapat mencapai ratusan miliar dolar AS pada akhir dekade ini dan menjadi salah satu segmen pertumbuhan tercepat dalam industri pariwisata global. Generasi Y (lahir 1981–1996) dan Generasi Z (1997–2012) disebut sebagai kelompok pelanggan utama yang cenderung bersedia membayar untuk pengalaman unik, bukan sekadar liburan tradisional.
Di Vietnam, festival musik skala besar di Hanoi, Ho Chi Minh City, Da Nang, dan Hue dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan daya tarik yang kuat. Tingkat hunian hotel dilaporkan meningkat signifikan selama acara berlangsung, sementara restoran, layanan transportasi, dan ekonomi malam hari turut memperoleh manfaat langsung.
Program musik juga dinilai tidak hanya menarik wisatawan ke kota-kota besar. Ketika konser digelar di lokasi yang kaya budaya seperti ibu kota kuno, kota tua, atau dataran tinggi, acara dapat menjadi katalis bagi wisatawan untuk mengeksplorasi sisi budaya yang lebih dalam.
Selain itu, ketika artis internasional tampil di destinasi baru, citra negara dan kota tuan rumah cenderung menyebar luas melalui media sosial dan media massa. Unggahan, video, dan aktivitas “check-in” disebut dapat menjadi promosi yang efektif.
Namun, agar wisata musik berkembang berkelanjutan, destinasi dinilai perlu berinvestasi pada infrastruktur transportasi, manajemen keamanan, perlindungan lingkungan, serta strategi penyelenggaraan yang profesional. Keberhasilan festival musik tidak hanya ditentukan kualitas artis, tetapi juga pengalaman menyeluruh pengunjung.
Pada akhirnya, wisata musik mencakup rangkaian aktivitas mulai dari membeli tiket konser, memesan hotel, membeli tiket pesawat, merencanakan wisata kuliner, hingga menjelajahi destinasi. Karena itu, tren ini dipandang bergerak dari fenomena spontan menjadi strategi pembangunan ekonomi dan budaya yang lebih terarah di berbagai negara.

