BERITA TERKINI
WMD Art Festival di Gianyar Jadi Wadah Kreativitas Ogoh-ogoh untuk Pelajar se-Bali

WMD Art Festival di Gianyar Jadi Wadah Kreativitas Ogoh-ogoh untuk Pelajar se-Bali

GIANYAR—Warung Makan Dede (WMD) di Banjar Lebah, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, kembali menggelar WMD Art Festival sebagai ajang kreativitas seni budaya di penghujung tahun 2025. Kegiatan yang dipusatkan di halaman WMD pada Sabtu (27/12/2025) ini menghadirkan tiga kategori lomba bertema ogoh-ogoh untuk pelajar tingkat SD hingga SMP se-Bali.

Tiga kategori yang diperlombakan yakni Lomba Tapel Ogoh-ogoh (tapel jadi), Lomba Clay Tapel Ogoh-ogoh (pembuatan tapel di tempat), serta Lomba Sketsa Ogoh-ogoh. Seluruh peserta mendapatkan plakat penghargaan. Acara juga diramaikan workshop sketsa dan ogoh-ogoh oleh Garas Art serta seniman kembar asal Karangasem, Wiriantana dan Wiriantika.

Owner WMD, I Wayan Dede Pranata, mengatakan edisi ini merupakan kali ketiga WMD Art Festival digelar sepanjang 2025. Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, edisi ketiga dikhususkan bagi pelajar karena tingginya antusiasme generasi muda dalam berkarya.

“Rencananya kami ingin menggelar awal tahun 2026, tapi melihat semangat adik-adik pelajar, kami putuskan tetap digelar akhir tahun. Astungkara peserta tembus 140 orang, bahkan ada yang datang dari Singaraja,” kata Dede.

Sejak awal, WMD Art Festival digagas sebagai ruang alternatif bagi seniman muda Bali untuk berkarya tanpa terikat persoalan teknis lomba maupun perdebatan pakem. Sejumlah penyelenggaraan sebelumnya juga sempat menarik perhatian publik, termasuk saat WMD mengadakan Lomba Rangda jilid perdana.

Namun, Dede memastikan kategori Rangda tidak akan dilanjutkan. Menurutnya, muncul banyak salah paham terkait pakem dan aspek penilaian. “Kami ingin lomba jadi ruang hiburan dan kreativitas, bukan sampai menyinggung sisi sakral Rangda yang berkaitan dengan Ida Sesuhunan. Karena itu kategori ini kami hentikan,” ujarnya.

Pada edisi ketiga ini, kategori pembuatan tapel ogoh-ogoh disebut paling menyita perhatian. Peserta wajib membuat karya di lokasi dalam kurun waktu yang ditentukan, dengan juri mengawasi proses secara langsung. Sistem tersebut dinilai dapat memastikan keaslian karya sekaligus memberi ruang bagi peserta yang benar-benar menguasai proses pembuatan.

“Kami ingin peserta berani tampil dengan karya murni buatan sendiri, bukan sekadar membeli atau ikut-ikutan. Ini juga untuk memupuk kepercayaan diri mereka bersaing di ajang yang lebih besar,” kata Dede.

Meski kegiatan berjalan lancar, keterbatasan lokasi menjadi evaluasi utama. Penyelenggaraan yang dipusatkan di halaman rumah sekaligus warung miliknya membuat area parkir dan ruang gerak peserta cukup terbatas.

“Sejauh ini kendalanya masih di lokasi dan parkir. Tapi kami bersyukur semua berjalan lancar. Semoga tahun 2026 bisa kami kemas lebih baik lagi,” ucapnya.

Melalui kegiatan ini, Dede berharap muncul lebih banyak bibit seniman muda yang berani berkarya dan tidak semata berpatokan pada predikat juara atau validasi. Ia menilai WMD Art Festival dapat menjadi ruang aman untuk belajar, berproses, sekaligus memperkuat ekosistem seni budaya Bali.

“Di tahun 2026 kami ingin buka ruang lebih luas. Astungkara pengalaman kurang baik di 2025 jadi pelajaran. Kami ingin WMD bisa menjadi tempat berkarya, bukan hanya arena lomba,” tutupnya.