Musik tradisional Sunda memiliki beragam bentuk ekspresi, salah satunya Arumba. Genre ini dikenal sebagai musik hibrida yang lahir dari perpaduan alat musik bambu dengan instrumen modern. Meski berakar pada tradisi, Arumba berkembang mengikuti perubahan zaman dan membentuk karakter bunyi yang khas.
Sejarah awal Arumba disebut diinisiasi oleh Mochamad Burhan. Pada masa-masa awal kemunculannya, Arumba lebih banyak dimainkan di lingkungan masyarakat Jawa Barat. Perkembangannya berlangsung di tengah perubahan sosial dan urbanisasi, yang kemudian turut memengaruhi pilihan instrumen serta gaya pertunjukan.
Arumba berangkat dari tradisi musik bambu yang telah lama hidup di tanah Sunda. Dalam perjalanannya, masyarakat mulai menambahkan alat musik Barat untuk memperkaya warna suara sekaligus membuka ruang kreasi yang lebih luas. Perpaduan ini menjadi salah satu penanda penting yang membedakan Arumba dari bentuk musik bambu tradisional lainnya.
Transformasi juga terjadi pada komposisi alat musik yang digunakan. Selain angklung dan calung, Arumba mulai memasukkan instrumen seperti bass, gitar akustik, dan keyboard guna menghadirkan nuansa baru. Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana Arumba tidak berhenti pada pakem tradisional, melainkan terus mencari bentuk yang relevan dengan kebutuhan musikal dan selera pertunjukan.
Dalam perkembangan modernnya, Arumba tidak lepas dari pengaruh globalisasi. Unsur hibriditas—pencampuran elemen lokal dan global—menjadi ciri yang menonjol. Seperti dijelaskan Hinhin Agung Daryana dan rekan-rekannya, perjalanan Arumba dapat dibaca sebagai bukti keterbukaan budaya Sunda terhadap inovasi, tanpa sepenuhnya melepaskan akar tradisinya.

